Minggu, 05 Februari 2012

About my new story

Diposting oleh Icha Elias di 01.43 0 komentar
Lagi lagi gue isi blog dengan hal yang gapenting. Hohoho
Disini gue cuma mau berkeluh kesah *cieh* intinya disini gue mau bilang kalau gue itu mau post cerpen gue yang judulnya My Real Princess tapi gue gayakin banyak yang baca -_-
soalnya mau gimana yaaa.. demi neptunus deh ini blog isinya bener2 sepi pengunjung.. gue bingung musti melakukan apa buat ngeramein ini blog biar ga garing kaya gini.. atau mungkin ini karena tampilan blog gue yang sama sekali gabanget.
Terus di blog ini kan juga udah isi segala macem tulisan. Mulai dari Cerpen, Fanfiction, dll. Kalian bisa menikmati semua tulisan asli gue, tulisan yang gue bikin dengan susah payah sendiri *meski jelek* tapi gue minta kalian hargai ya.. intinya kalian komen gitu kek :’’ bagi yang komen gue bakal bikinin Fanfiction atau cerpen deh buat kalian ;) sesuai permintaan kalian sendiri.
                                                                                        
Okedeh, abis postingan ini gue bakalan posting sebuah cerpen.. tapi sebenernya bukan cerpen sih, lebih tepatnya kaya cerbung gitu, cerita bersambung. Tadinya gue pikir ini bakal kelar dalam 1 part aja atau oneshot tapi ternyata enggak. Kemaren gue nulis cerita ini ampe jam 3 malem. Hahahaha
maklum aja ya kalau jelek, gue emang gabakat dibidang tulis nulis. Maaf kalau maksa juga wkakakakak
Jadi intinya cerita ini bukan cerpen.. jadi masih TBC gitu kawan ;)
Komen yah.. :D
Gue ngarepin banget komen dari kalian, sepedes apapun, sejahat atau sedalem apapun komen kalian gue terima itu sebagai masukan agar tulisan gue lebih maju dan lebih bermanfaat. Apalah arti kalian membaca tapi ga komen :)
Terima kasih udah baca coretan gaje saya, sampai jumpa :D
Klik disini untuk mulai membaca My Real Princess part 1

Salam..
Pacar Nick Jonas
Icha Elias :p

My Lovely Idol | Part 7

Diposting oleh Icha Elias di 01.35 0 komentar


Tittle : My Lovely Idol
 Author : Icha Elias or Ummu Aisyah (@MrsEliasChoi on twitter)
Rating : PG 13
Length : Series
Repost from :  http://mrschoiminho.wordpress.com/
Cast : Choi Sanghee, Lee Donghae, Lee Hyukjae and all others

 Siang hari ini mereka merasa begitu bahagia, berkali-kali mereka mencoba begitu banyak wahana yang ada di taman hiburan, melepas penat dan lelah. Sanghee tak henti-hentinya tertawa lepas bersama Donghae. Ia cukup merasa puas dengan Donghae siang ini. Ternyata Donghae tak seburuk yang ia kira sebelumnya. Nilai plus untuk Donghae bertambah dimatanya.
“Ayo kita naik jet coaster!!” seru Sanghee ketika merka sudah berada didepan sebuah wahana yang tak lain adalah jet coaster.
“Kau yakin?” tanya Donghae ragu. Sanghee mengangguk cepat. “Iya… aku yakin! Cepat cepat!!”

“Tapi tadi kau makan banyak sekali… bagaimana kalau nanti—”

“Aish.. sudahlah tidak akan terjadi hal buruk… ayo kita naik!!!!!!!” tanpa peringatan dari Donghae, gadis itu langsung menarik tangan Donghae. Ia berlari memasuki wahana jet coaster itu dengan semangatnya. Donghae merasakan firasat sedikit buruk saat mereka menaiki tempat duduk diwahana itu.

“Aduh… firasatku tidak enak”

“Tidak akan terjadi apa-apa… tenang saja! Kau ini terlalu banyak menonton film Final Destination yah? Hahahhahahaha” tawa Sanghee menggelegar telinga Donghae, kata-kata itu langsung menusuk kehati Donghae yang notabene seorang pria. Tapi Donghae tidak berani membalas ejekan Sanghee ia menggumam sambil mendengus sebal.

***

“Hoeeekkk”

Pria itu menyandarkan tubuhnya didinding didepan Toilet wanita. Beberapa kali ia melihat banyak gadis yang berlalu lalang keluar dari toilet itu. tapi tak kunjung menemukan Sanghee yang tengah keluar. Sudah setengah jam gadis itu berada didalam toilet untuk memuntahkan isi perutnya akibat naik jet coaster tadi.

“Sudah kubilang naik jet coaster itu bukan pilihan yang tepat ckck” gerutu pria itu sendirian. Terlihat gadis-gadis yang baru saja keluar dari toilet itu menatap Donghae dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menurut mereka Donghae terlalu mencolok. Ia buru merapikan topinya dan menutup mulutnya dengan tangan alih alih agar identitasnya tidak terbuka.
“Aish… sedang apa gadis itu didalam? Apa ia tidak tau tempat ini begitu berbahaya bagiku” untuk kesekian kalinya pria itu menggerutu. Tapi tiba-tiba ia tersenyum, menyadari hari ini begitu berharga bagi dirinya. Jika didefinisikan akan terlalu rumit (?) intinya, mereka berdua sama sama merasa puas akan hari ini. Tadi siang mereka menyantap ice cream bersama, makan siang bersama, menaiki beberapa wahana bersama. Donghae masih sangat ingat betapa mengesankannya saat Sanghee yang berteriak ketika naik jet coaster, betapa menggemaskannya wajah Sanghee ketika Donghae mengatakan bahwa Sanghee cantik hari ini. Kedengarannya memang sangat melelahkan, tapi bagi  Donghae dan Sanghee hari ini begitu mengesankan. Jika Donghae boleh berharap, ia ingin sekali hari ini akan terasa sangat lama dan tak akan pernah habis. Ia masih ingin melihat Sanghee yang tertawa karena dirinya, ia masih ingin melihat Sanghee yang tersenyum karena dirinya, ia masih ingin melihat Sanghee tersipu karena dirinya, ia masih ingin mengembalikan mood Sanghee yang sempat rusak karena Hyukjae tadi. Dan yang paling terpenting adalah ia ingin Sanghee mengetahui isi hatinya sebenarnya. Bahwa Donghae begitu bahagia ketika melihat Sanghee yang selalu tersenyum padanya.

Sanghee keluar dari toilet dengan raut wajah pucat. Wajahnya sedikit berkeringat karena tadi ia habis memuntahkan isi perutnya. “Umm.. perutku sakit” gumamnya pada Donghae.
“Sudah kubilang! Ini salahmu.. kau tau huh?” kata Donghae mengelus bahu Sanghee pelan, memberikan sebuah ketenangan disana. ia lalu menuntun tubuh Sanghee yang sudah lemas itu ke sebuah tempat duduk yang tak jauh dari sana.
“Huhuhu muaaal…” erangnya. “Haaah.. apa yang harus kulakukan?” Donghae mengacak rambutnya bingung. “Pinjamkan bahumu”
“Untuk apa?” Donghae mengernyit heran “Sudahlah pinjamkan sajaaaa!!!” teriaknya.
“Ne ne…” jawab Donghae cepat. Ia mendekatkan bahunya pada kepala Sanghee. Sebelum gadis itu akan teriak lebih keras dari sebelumnya. Donghae sedikit terlonjak kaget tak percaya setelah merasakan Sanghee menyandarkan kepalanya dibahu Donghae. “Sa..Sanghee-ya” ucapnya terkaget tidak percaya. “Jahat!!” kata Sanghee tiba-tiba. “Mwo?? Siapa yang jahat huh?” Donghae membelalakan matanya setelah Sanghee menyerukan kata ‘Jahat’ ia merasa dirinya tertuduh atas kalimat itu.
“Kau Jahat… seenaknya saja meninggalkanku yang sendiri disini! Aku memang menghargai pekerjaanmu sebagai entertainer.. tapi tak seharusnya kau membatalkan janji kencanmu padaku.. kau tau betapa jahatnya dirimu huh?”
Donghae mengerutkan dahinya. Sanghee sedang melantur kah? Dia sedang membicarakan tentang siapa? Jelas sekali bahwa itu bukan dirinya.

“Ya! Kau ini sedang bicara apa sih huh?” Donghae heran.

“Orang jahat!”

“Siapa?” tanya Donghae penasaran

“….” Sanghee terdiam, ia tidak berani menjawab.


Apakah gadis ini mabuk hah? Tapi dia kan tidak sedang minum-minum? Donghae kembali berkutat dengan pikirannya.
Tiba-tiba ia merasakan bahunya basah. Ia mendongakan kepalanya keatas langit tapi sama sekali tak menemukan setitik air yang jatuh dari sana. Lalu air apa yang jatuh kebahunya barusan.
apakah… “Sanghee-ya, kau menangis?” tanya Donghae. Ia sedikit mengangkat wajah gadis itu dan ternyata benar. Wajah gadis itu sedikit basah karena air bening yang keluar dari matanya.

“Kau menangis”

Sanghee menggeleng.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa kok”

“Apanya yang tidak apa-apa” Donghae terlihat sedikit khawatir dengan keadaan gadis itu.

“Kau sedang memikirkan Hyukjae ya?” tebak Donghae sok tau. Tapi Sanghee malah tambah diam, ia sama sekali tak menjawab. Menggerakan kepalanya pun tidak.

“Dia jahat!” katanya pelan. “Aku kecewa padanya… aku sama sekali tak percaya dia benar-benar meninggalkanku disini” sambungnya, hati Donghae seakan ditiban beban berat. Ia begitu sesak ketika gadis itu menyebut kata ‘Hyukjae’. Tapi melihat Sanghee menangis seperti ini pun ia tidak tega. Ia ingat betapa menyesalnya ia saat membuat Sanghee menangis kemarin. Walaupun sebenarnya itu adalah peristiwa yang sama sekali tak ingin mereka berdua ingat.


Donghae mencoba tersenyum tegar. Pria itu kemudian meraih tubuh Sanghee dan mencoba memeluk gadis itu. Menenggelamkan wajah gadis itu didadanya. Seolah menyuruh gadis itu menangis disana. “Kau mau menangis? Menangis saja disini… aku sedikit tidak suka melihat air mata seorang gadis” kata Donghae ditelinga Sanghee. Gadis itu memejamkan matanya kemudian menangis terisak disana. Ia merasa seperti ada dorongan untuk menangis ketika Donghae menyandarkan wajahnya didada bidang pria itu. Sanghee sedikit sesenggukan. Namun Donghae mengelus rambut gadis itu lembut. Membuat Sanghee sedikit merasa lebih tenang.
setelah beberapa menit Sanghee menangis disana. ia memejamkan matanya. Sanghee seperti tidak ingin waktu-waktu seperti ini berjalan. Ia ingin sekali detik-detik sedikit diperlambat, supaya ia masih bisa menenggelamkan kepalanya didada Donghae. Ia begitu nyaman.

“Hei.. sepertinya kau jadi ketagihan dipeluk ya?” goda Donghae yang melepaskan sedikit pelukannya untuk melihat wajah Sanghee yang basah.

“Mwo? Ish.. jangan terlalu percaya diri!” Sanghee meninju pelan lengan pria itu. “kalau begitu tersenyum lah… tadi kau tidak berhenti-hentinya tertawa.. kenapa sekarang malah menangis.. aneh sekali”

“baiklah… heeemppp~” Sanghee memaksakan senyuman merekah diwajahnya. Donghae tertawa kecil melihat ekspresi dibuat-buat Sanghee. “Haha.. begitu lebih baik”

“Hehehehe” tawanya

Pria itu kemudian tersenyum tulus lalu mengacak rambut Sanghee lembut. “Sudah jangan menangis lagi” kata Donghae menenangkan.
“Kalau begitu ayo kita pergi” Donghae menarik lembut tangan gadis itu. Sanghee menaikkan kepalanya untuk melihat wajah pria itu “Mau kemana lagi?”

“Memangnya kau masih ingin disini huh? Lebih baik kita jelajahi saja wahana yang lain”

“Yasudah, tapi kalau nanti ada yang menyadari kau bagaimana? Aku sedang tak ingin berlari-lari ya!”

“Aish.. kau ini berisik sekali sih.. yang penting sekarang kau masih selamat kan! Sudahlah ayo” tanpa kata-kata apapun dari Sanghee ia menarik tubuh Sanghee menjauh dari tempat itu dan kembali meyusuri tempat demi tempat yang ada disana.

                                                                           
Pupil mata mereka menangkap setiap hal yang ada disana. Hingga mata Sanghee tertarik pada sebuah mesin penghasil boneka (?). Matanya membulat ketika ia melihat sebuah boneka ikan nemo berwarna orange yang terdapat didalam sana. Tangan kecilnya menarik-narik ujung jaket  Donghae. Gadis itu benar-benar terlihat seperti anak kecil yang minta permen -_-

Donghae langsung menoleh kearah Sanghee yang sedang menarik ujung jaketnya.

“Ada apa?”

“Eum….. itu” ucap Sanghee malu malu sambil menunjuk kebenda itu. Donghae menaikkan sebelah alisnya heran, ia mengalihkan pandangannya kearah yang Sanghee maksud. Ia mengernyit saat melihat boneka nemo orange itu.
“Boneka?? Kau ingin boneka ini??” Tanya Donghae seolah ia bisa membaca air muka Sanghee yang begitu mupeng.
“Baiklah… nanti jika aku pergi ke toko boneka akan kubelikan boneka sejenis itu” Kata Donghae santai, tangannya siap menarik lengan Sanghee tapi gadis itu malah menggeleng cepat.

“Aku cuma ingin yang itu” ucapnya yakin

“Apa? Hei… ini kan cuma boneka jelek ! aku bisa membelikanmu yang jauh lebih bagus dan lebih mahal daripada boneka jelek hasil koin ini” kata Donghae sedikit sewot.

“Aku cuma mau yang ini!!!!!! Pokoknya ambilkan untukku!!”

“Haish… untuk apa susah payah mengambil boneka begitu huh? Kau ini—”

“Bilang saja kalau kau tidak bisa kan?? Payah sekali… yang aku tau, para pria itu paling pandai mengambil boneka dari mesin ini. Itu biasanya tanda cinta pria itu kepada kekasihnya..” Sanghee mulai sotoy. Gadis itu sedikit menekan kata kata akhir, Donghae yang merasa tersindir langsung menggaruk rambutnya bingung.

“Ta…Tapi… aku kan bukan.. aku itu kan bukan kekasihmu.. jika kau ingin boneka ini, minta saja kekasihmu untuk mengambilnya…” balas Donghae ditengah saltingnya.

Sanghee memajukan bibirnya kesal. Kenapa lelaki ini begitu tidak peka. Apa susahnya mengambilkan boneka dari mesin yang dimasukan koinnya terlebih dahulu itu. Tidak sesusah mencari jarum dalam jerami kan?


“Aku kan tidak punya kekasih…” kata Sanghee pelan, ia menundukan kepalanya untuk menatap kedua kakinya yang dibalut sepatu itu.

“Hish…”

“Aku juga ingin merasakan bagaimana sih rasanya diberikan sesuatu oleh seorang pria dengan hasil mereka sendiri… dan menurutku mengambil boneka atau hal kecil seperti ini bisa membuktikan dan memberikan keyakinan terhadap sang gadis bahwa si pria mampu melakukan apapun untuknya sekalipun itu mengorbankan hal yang penting baginya” ucap Sanghee panjang lebar. Entah intinya dia berbicara apa. Mulutnya bergerak tak beraturan mengikuti apa yang ada dihatinya. Ia terlalu lepas kendali untuk mengatakan kata-kata itu. Kalau dipikir-pikir untuk apa ia mengatakan hal yang sepertinya tidak penting bagi Donghae itu? Berusaha membujuk pria itu kah agar mengambilkannya boneka nemo orange itu?

Tapi entah terkena sihir apa dan dari mana. Pria itu bergeming, otaknya sedang berpikir. Ia ingin sekali mencoba mengambilkan boneka itu. Tapi…… bagaimana jika pria itu tidak bisa? Harga dirinya akan hancur dihadapan Sanghee -_-

“Baiklah… akan kucoba…” kata Donghae pasrah, ia merogoh saku celananya untuk mencari beberapa koin yang akan ia masukan ke mesin itu *saya gatau nama mesinnya -.-*

“Hah???? Jincha??? Kau akan mengambilkan boneka untukku?????”

Donghae mengangguk. “AAAAAAAAA Terima Kasihh!! Kalau begitu cepat!!! Masukan koinnya … lalu mainkan ini” Sanghee merebut koin berwarna perak itu dari genggaman Donghae dan buru buru memasukkannya kedalam lubang untuk koin disana.

“CEPAT CEPAT CEPAT CEPAT XD” Sanghee berterias kegirangan ia hampir saja ingin loncat keatas karena saking senangnya melihat Donghae yang sedang berkutat dengan mesin itu.
Sudah berkali-kali pria itu gagal dan memasukan koin kesekiannya. Tapi mau bagaimana lagi. Ia harus bisa mengambil boneka itu untuk Sanghee.

“Haiiisshh kenapa boneka jelek begini saja susah sekali sih!!! Aarrhh” erangnya sebal masih dengan memainkan joy stik dari mesin itu.

“Ayo Donghae-ya kau pasti bisaaa… !!! ambilkan yang warna orange !! pokoknya nemo orange! Aku tidak mau yang lain!!!” Sanghee sedikit menjerit memberi semangat. Ia layaknya seorang gadis cheers yang sedang memberi semangat pemain basket *apasih*

“YA!! KAU INI BERISIK SEKALI!!!! Jangan mengganggu konsentrasiku!!!” bentak Donghae pada Sanghee. Detik itu juga Sanghee menutup mulutnya sambil tersenyum kecil. “ayo semangat!” ucapnya akhirnya.

Beberapa menit kemudian Donghae yang sedari tadi terus berkutat dengan mesin itu mengangkat kepalanya. Ia menyeka keringat didahinya yang basah. Ia sudah berusaha.

“Ini” ujar pria itu sambil memberikan boneka nemo orange itu untuk Sanghee.
“Howaaaaaa aku tidak percaya kau memberikan ini padaku!!! Aaaaaaaaaa kau ini benar benar baik hatiii” Sanghee kegirangan, ia meraih boneka itu dari genggaman Donghae. Dan lagi-lagi tubuhnya tidak bisa dikendalikan, ia terlalu lepas kendali. Gadis itu memeluk tubuh Donghae yang sekarang sudah dihadapannya dengan reflex. Donghae terlonjak sejenak, jantungnya tak bisa ia kendalikan saat Sanghee mulai meraih tubuhnya tadi.

Namun detik berikutnya Sanghee melepaskan pelukannya dan tersenyum dengan sangat menggemaskan membuat Donghae tak bisa untuk tidak membalas senyuman Sanghee. Mereka berdua tersenyum manis.
“Lee Donghae, Gomawo” katanya

Donghae mengangguk “Memang sudah seharusnya kau berterima kasih padaku” balas Donghae terkekeh.

“Aku tau itu… dan akhirnya, aku bisa merasakan bagaimana rasanya diberi boneka oleh lelaki” Sanghee tersenyum puas.

“Sudah jangan mengatakan itu lagi.. kau terlihat menyedihkan tauk!”

Sanghee tersenyum samar, seakan ada arti didalam senyumannya itu. “Sudah kan? Ayoo kita pergi”

Donghae kembali meraih tangan mungil gadis itu, menggenggamnya lembut dan erat kali ini. Membuat Sanghee tak ingin melepaskan genggaman tangan Donghae. Rasanya ia begitu aman berada dalam genggamannya. Rasanya ia seperti menjadi wanita beruntung yang bisa berpegangan dengan Donghae. Entahlah, intinya Sanghee benar-benar menjadi gadis yang kuat saat Donghae menggenggam erat tangannya. Nilai Sanghee terhadap pria itu bertambah. Donghae tak seburuk yang ia kira. Ia sudah memutuskan untuk memaafkan apa yang terjadi beberapa hari lalu.

“Lucu sekaliiiiii” kata Sanghee gemas. Ia mencubit-cubit boneka itu karena begitu gemas dengan boneka nemo yang berada ditangannya itu.
Donghae menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sanghee. “Kau suka?”

“Tentu!” jawabnya riang “Aku berjanji akan menjaga benda ini” lanjutnya. Kata-katanya itu sontak membuat Donghae tersenyum. “Jagalah benda itu.. jangan sampai hilang”

“Tenang saja… aku janji akan selalu menjaga ikan ini” kata Sanghee diselingi senyuman memikatnya.

Tiba-tiba langkah Sanghee terhenti disebuah ia membalikan badannya kearah sebuah cermin besar yang berada disana. “Kenapa berhenti?” Tanya Donghae heran. “Lihat…” seru Sanghee. Ia menurunkan bahu pria itu agar bisa sejajar dengannya -___-“

“Mirip kan??” Sanghee menyejajarkan boneka ikan nemo berwarna orange itu disamping wajah Donghae. Sontak pria itu tidak terlonjak tidak terima.

“Mwo?  Apa katamu?? Pria setampan aku kau bilang mirip dengan boneka jelek itu? TIDAK!!” bantahnya sedikit kesal. Namun Sanghee malah tertawa cekikikan melihat respon pria itu “Hihihihi … aku kan hanya bercanda… aku sangat menyukai boneka ini sih” ucapnya santai kemudian memeluk erat boneka berbody mungil itu. Tapi diam-diam Donghae tersenyum penuh arti. Entahlah, rasanya ia senang sekali saat Sanghee bilang ia sangat menyukai boneka yang baru saja diberikannya.

***

Hari sudah semakin sore mentari seakan bosan untuk memberikan keeksisannya. Langit sudah mulai terlihat senja menampilkan sunset yang begitu indah dimata para orang.

Namun sepasang anak manusia itu (?) belum juga menunjukan tanda-tanda ingin pulang. Mereka sudah melewati hari yang melelahkan. Tapi entah kenapa, lelah sama sekali tak terasa malah jika mereka bisa, mereka ingin waktu tak akan pernah usai dan mereka bisa terus menghabiskan waktu bersama.
“Kau lelah?” Tanya seorang pria yang menggenggam erat tangan si gadis. Gadis itu menggeleng. “Belum… kau lelah ya?” “Tidak!”

“Itu Lee Donghae kan?” “Jincha?? Donghae Oppa ada di tempat seperti ini? Itu tidak mungkin!”


Samar-samar Sanghee mendengar sebuah bisikan bisikan yang terdengar begitu beradu ditelinganya. Ia menajamkan telinganya dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Gawat! Batin Sanghee mula panik. Ia mendekatkan bibirnya ketelinga Donghae dan berbisik “Donghae-ya.. ada yang menyadari kau disini” bisiknya sepelan mungkin, Donghae yang mendengar itu langsung terkejut. Bukankah tadi ia tidak ketauan? Kenapa penyamarannya bisa begitu mudah diketahui para fans.

“Aku yakin itu dia! Kau lihat dari fisiknya. Bukankah ia sangat mirip dengan Donghae oppa”
“Kalau begitu siapa gadis disampingnya… kulihat dia berpegangan tangan”

Sontak Sanghee dan Donghae berpandangan sejenak seolah mereka bertelepati apa yang harus mereka lakukan disaat seperti ini. Sanghee menggigit bawah bibirnya. Takut-takut ini adalah terakhir kali ia menginjakan kaki di taman hiburan dengan selamat. Ia sungguh takut dengan para fans wanita yang ganas-ganas itu. Sorot matanya seperti berkata ‘apa-yang-harus-kulakukan’

Bisikan para gadis gadis disekitar mereka semakin kencang terdengar. Malah sudah tidak seperti bisikan lagi. Mereka seakan telah menuduh pria berkacamata hitam itu adalah benar-benar Lee Donghae tanpa ada bukti. Ketakutan semakin menyergap tubuh gadis itu. Donghae semakin menggenggam tangan Sanghee erat. Seakan ia tak ingin melepaskan dan tak akan melepaskan genggaman tangannya.

“Apakah itu kekasihnya?”

“Hei !! kekasih?? Tidak mungkin! Aku tidak akan rela melihat Oppa berpacaran dengan gadis pendek itu.. akan kubunuh jika dia benar-benar kekasih Donghae oppa”

Donghae menarik nafas dan menghembuskannya kencang. Sejenak ia menatap arah sekeliling sambil tersenyum misterius. “Dalam hitungan ketiga, larilah secepat yang kau bisa” bisik Donghae telinga Sanghee. Posisi Donghae terlihat seperti mencium pipi gadis itu dan membuat para gadis-gadis membelalakan matanya.

“Mwo? Maksudmu kita akan lari? YA~! Bagaimana nasibku nanti” Sanghee tidak terima. Mengingat ini adalah ide paling bodoh yang pernah ia ketahui. Hidupnya dipertaruhkan disini -_-

“Jangan pernah lepaskan genggaman tanganku, arra?”

“Ta.. Tapi”

“Satu” Donghae mulai memberikan aba-aba, sementara gadis itu masih belum siap. Sanghee masih menunjukan raut wajah cemas setengah mati. “Tenang saja, kau pasti bisa… aku akan melindungimu” kata Donghae tersenyum. Bagaikan terkena mantra karena senyuman Donghae. Gadis itu mengangguk pelan. Senyuman Donghae berhasil membuat Sanghee sedikit tenang. Hatinya seolah terenyah saat Donghae berkata bahwa ia akan melindunginya.

“Dua” Donghae semakin mengeratkan tangan gadis itu. Ia tak akan mau membuka genggamannya untuk melepaskan Sanghee.

“Tiga!!” satu detik setelah kata itu terucap dari bibir Donghae, pria itu langsung membuka topi yang tadinya tersampir dikepalanya dan memakainya ke kepala Sanghee. Satu yang ada dipikirannya sekarang adalah.. melindungi gadis itu dan mencegah agar identitas atau wajah dari Sanghee tak terlihat. Tau bagaimana gawatnya seorang fangirl jika melihat idolanya bersama gadis lain? Tak perlu dijelaskan. Keselamatan gadis itu menjadi taruhannya sekarang.

Donghae terus melangkahkan kakinya berlari dengan cepat dan menarik tangan Sanghee sekuat tenaga. Untungnya gadis itu bisa menyejajarkan langkahnya dengan langkah pria itu. Walau Donghae yakin gadis itu pasti sangat lelah berlari-lari seakan dirinya adalah maling ditengah taman hiburan begini. Sanghee hanya bisa berlari mengikuti arah Donghae dengan arahan tangan kirinya yang digenggam erat oleh Donghae. Sementara tangan kanannya berusaha menjaga topi Donghae yang sekarang sudah dikepalanya agar tidak jatuh dan menampakkan wajah aslinya.

“Oppa !!! Donghae Oppa!!!” teriakan itu semakin jelas terdengar dari arah belakang mereka dan semakin membuat rumit langkah langkah mereka berdua. Dan karena teriakan gadis gadis dibelakang beberapa pengunjung yang didepan pun ikut memblok langkah-langkah Donghae dan Sanghee. Kamera flash dari pengunjung membuat buram mata mereka. Mereka seakan penasaran, siapa yang sedang berjalan bersama sang idola. Wajar kan?
Sekarang Sanghee merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia begitu sial, padahal baru saja ia merasa senang karena apa yang telah ia lalui hari ini.

Donghae merasa langkah mereka berdua semakin tertutupi oleh sekerumunan orang disekitar mereka. Namun karena ia masih berpikir bahwa ia adalah seorang idola, pria itu tersenyum kecil kearah kamera. Kemudian ia menarik bahu Sanghee dan memperkecil jarak diantara mereka. “Permisi..” ucapnya sambil terus mencoba menerobos keramaian. Tangan kini merangkul bahu Sanghee dan menyuruh Sanghee terus menundukan kepalanya agar identitasnya tidak diketahui.

“Oh God” lirihnya ketakutan. Langkah Donghae semakin lama semakin cepat dan lagi lagi Sanghee hanya bisa mengikutinya saja. Mereka terus berlari hingga melewati beberapa wilayah yang ada di taman hiburan itu. Sanghee mulai kelelahan. Ia seakan tak kuat untuk berdiri. Tapi untunglah, kini telinganya sudah tak menangkap jeritan jeritan gadis gadis tadi. Jeritan itu kini sudah menjadi sayup sayup yang terbawa angin. Dan itu artinya. Mereka sudah berada ditempat parkir.

“Brakkk!!!!”

Sial. Kaki Sanghee tersandung sesuatu hingga membuat tubuhnya tersungkur dan terjatuh dilantai. Tidak tidak, bukan tersandung. Tapi kaki gadis itu sedang tidak beres. Donghae yang masih menggenggam tangannya kini menoleh kearah gadis itu dan bertanya “Kau kenapa?”

“Kakiku” rintihnya. Donghae melepaskan genggamannya sejenak kemudian melihat pergelangan kaki Sanghee yang terlihat membiru. “YA~! Kakimu kenapa?” tanyanya khawatir melihat kondisi gadis itu sedang tidak baik.

“Jatuh saat pelajaran olahraga kemarin” jawabnya singkat. Ia masih merintih dengan menggigit bawah bibirnya. “Babo~” Donghae menoyor pelan kepala gadis itu.
“Kau bisa berjalan?” “Sepertinya bisa”

Gadis itu memaksakan tubuhnya untuk mengangkat tubuhnya. Dan akhirnya. “Brakk!!” ia kembali tersungkur dilantai. Donghae mendengus meledek.

“Apanya yang bisa huh?” Pria itu langsung berjalan kemudian berjongkok dan memunggungi Sanghee. “Mau apa kau?” Tanya Sanghee heran. “Naik” suruh Donghae pelan.
“Hah?? Kau yakin??”

“Cepat naik sebelum aku berubah pikiran. Parkiran mobilku memang tidak jauh dari sini, tapi kau sama sekali tidak bisa berjalan kan?”

“Baiklah kalau kau memaksa”

Sanghee melangkahkan kakinya perlahan-lahan walaupun rasanya sangat sakit kemudian meloncat (?) kepunggung pria itu. Gadis itu merangkulkan kedua tangannya dileher Donghae dan membiarkan pria itu menggendongnya.

Donghae tersenyum kecil. Kemudian berkata “Wah… ternyata kau—”

“Mwo? Berat? Kau yang memaksaku untuk digendong kan sekarang kau mau bilang kalau aku berat begitu????”

“Hei… yang bilang kau ini berat siapa huh? Aku ingin bilang bahwa kau tidak seberat yang kuduga”

“Tidak seberat yang kau duga?? Itu berarti kau berpikir bahwa aku ini berat kan???” suaranya terdengar sangat melengking di telinga Donghae.

“Ya! Kecilkan suaramu atau aku buang tubuhmu ke tong sampah huh?” Donghae tak mau kalah, suaranya tak kalah melengking dibanding Sanghee.

“Tapi kan… kau yang memulai.. jadi maksudmu aku gemuk begitu?”

Donghae menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Bibirnya bergerak tanpa suara yang keluar sambil berjalan di area parkir dengan hati-hati.

“Hei hei kau menggumam apa???!!!” tanya Sanghee sambil menggerakan badannya ingin melihat wajah Donghae.

“Ani..”

“Apa???” Sanghee memukul mukul bahu Donghae dengan kasar.

“YA~! Kau sadar tidak aku sedang menggendongmu, kalau kau tidak mau kita jatuh terguling lebih baik kau tidak bergerak”

“Kalau aku tidak berat kita tidak akan jatuh terguling!”

“Iya, kau memang tidak berat… tapi kalau kau terus bergerak begini, aku akan kehilangan keseimbangan! Itu masalahnya..” sahut Donghae akhirnya, nada bicaranya seperti sedang menjelaskan ke anak berumur lima tahun kenapa manusia tidak bisa terbang seperti burung. Sanghee tersenyum tipis mendengar kata terakhir itu. Entahlah, rasanya ia sedang ingin tersenyum setelah bertengkar tidak jelas seperti ini dengan Donghae.

Setelah tiba di depan mobil sedan milik Donghae, Sanghee segera turun dari punggung Donghae dan mencoba mencari keseimbangan kemudian berdiri. Sementara Donghae membukakan pintu mobil untuk gadis itu.

“Masuklah” suruh Donghae. Gadis itu masih berdiri dan memandangi Donghae dengan tatapan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya pria itu yang tau jawaban atas tatapan Donghae.

“Tenang saja, aku akan menjadi pengemudia yang baik untukmu! Puas?” jawab Donghae seolah tau apa yang sedang ada dipikiran gadis itu.

“Hehehe” Sanghee tertawa pelan kemudian memasukan tubunya kedalam mobil, dengan bantuan Donghae tentunya.

***

Langit hitam sudah mewarnai hari itu. Para penduduk pun sudah menutup rapat-rapat pintunya. Terang saja, ini sudah pukul tujuh malam.
Sebuah mobil sedan menghentikan rodanya didepan sebuah rumah, seorang pria lebih dulu keluar dari tempat kemudi dan membuka pintu untuk gadis disebelahnya. Ia menyambut gadis yang sudah Nampak sangat lelah itu dengan senyumannya.

“Hoaah.. akhirnya aku sampai juga” gadis itu tersenyum kecil membalas senyuman Donghae.
“Terima Kasih ya” lanjutnya. Donghae sedikit mendengar kata itu keluar dari bibir Sanghee.
“Hah?” ia masih belum sepenuhnya sadar akan kata-kata Sanghee.
“Terima kasih dan… maaf karena aku kau jadi—”
“Gwaenchana… seharusnya aku yang minta maaf, aku tidak bisa membuat hari-harimu jadi sempurna seperti yang kau inginkan”

Sanghee menggeleng. “Kau sudah melakukan yang terbaik, aku bahagia sekali hari ini… yang kuinginkan adalah kau membuatku senang hari ini. Dan kau benar-benar melakukan itu untukku”

Hati Donghae serasa melorot kekaki saat Sanghee mengatakan itu. Ia tidak percaya seorang Choi Sanghee mengatakan itu padanya. “Benarkah?”

Kali ini gadis itu mengangguk. “Ne..” Donghae tak bisa menahan dirinya untuk tak mengacak rambut gadis itu. Ia mengacak puncak kepala Sanghee dan tersenyum senang. Ia berhasil. Ia berhasil membuat gadis itu senang atau bahagia hari ini. “Pulanglah.. aku yakin orang tuamu pasti khawatir.” Donghae kemudian meraih tubuh gadis itu dan mengecup singkat kening gadis itu. Sanghee tak memberontak. Ia malah tersenyum saat Donghae mencium keningnya. Jantungnya terdengar sangat kencang ditelinganya saat Donghae mengecup keningnya dan tersenyum amat manis padanya.

“Sampai jumpa” Sanghee melambaikan tangannya kepada Donghae yang sudah melajukan mobilnya menjauh dari dirinya.

Time slows down whenever you're around

But can you feel this magic in the air?

It must have been the way you kissed me

Fell in love when I saw you standing there

It must have been the way

Today was a fairytale

My Lovely Idol | Part 6

Diposting oleh Icha Elias di 01.29 0 komentar

Tittle : My Lovely Idol
Author : Icha Elias or Ummu Aisyah (@MrsEliasChoi on twitter)
Rating : PG 13
Length : Series
Repost from :  http://mrschoiminho.wordpress.com/
Cast : Choi Sanghee, Lee Donghae, Lee Hyukjae and all others

Previous Chapter 

“Yoboseyo? Hyukjae oppa… wae?” sapa Sanghee, ia kemudian membalikan dirinya dari Ryumi dan Hyejin, takut – takut temannya tau bahwa ia sedang bicara dengan Hyukjae.
“Sanghee-ya, kau sedang di sekolah? Maaf aku mengganggu… aku hanya ingin bertanya keadaanmu” Tanya pria diseberang saluran Sanghee
“Aku tidak apa-apa oppa, tidak usah mengkhawatirkanku…” jawab Sanghee meyakinkan.
“Eum.. baguslah, aku takut terjadi sesuatu padamu…” Kata Hyukjae melega. Sanghee tersenyum bangga. Dirinya dikhawatirkan oleh Hyukjae. Sungguh beruntung…

Next Chapter

“Er, Sanghee-ya.. Kau ada waktu hari ini?” Tanya Hyukjae masih disaluran telpon Sanghee. Sanghee mengernyit heran, kemudian berkata “Tidak, sepulang sekolah  aku tidak ada acara kok oppa.. kenapa?” giliran Sanghee yang bertanya

“Ah.. kau mau … Er… Pergi denganku siang ini?” Tanya Hyukjae hati – hati, jantung gadis itu serasa ingin meledak. Apakah ini ajakan kencan?
Sanghee rasanya sudah ingin meloncat keatas meja makannya namun setelah ia pikir itu tidak mungkin, ia hanya berkata “Apa? Kau mau mengajakku pergi?”


“Ne, itu kalau kau mau”
Sanghee membuka mulutnya tidak percaya, ia harus buru-buru mengiyakan, sebelum Hyukjae menarik kembali kata-katanya.
“Ahh.. te.. tentu saja aku mau”
“Baiklah, kita bertemu nanti sore, tapi sepertinya aku tidak bisa menjemputmu… kau bisa dating ke kantor kemarin sendiri kan?” kata Hyukjae sedikit menyesal. Sanghee menelan ludah. Kekantor kemarin? Ketempat yang paling tidak ingin ia injak lagi?
“Apa? Kesana?”
“Ne, kenapa? Kau tidak bisa?”
“Ani, bukan begitu.. hanya..”
“Eung?”
Sanghee memejamkan matanya sesaat untuk berpikir. Ini kesempatan! Jangan kau sia-siakan hanya untuk alasan bodohmu itu Sanghee. Jika Donghae benar ada disana, kau hanya perlu mengabaikannya dan pura-pura tidak melihat.

“Ne oppa, aku akan kesana.. ahh! Aku juga akan mengembalikan jaketmu”
“Oke, sampai bertemua nanti Sanghee-ya, annyeong”
“Ne, annyeong” katanya akhirnya, pembicaraan mereka terputus ketika keduanya memencet tombol reject.

Hati Sanghee benar-benar berbunga kali ini, Hyukjae akan mengajaknya pergi sore ini! Tidak semua gadis bisa dengan mudahnya pergi dengan pria impiannya, tapi Sanghee? Ia akan merasakannya nanti sore. Berjalan-jalan berdua dengan Hyukjae, bergandengan tangan, makan ice cream berdua dan hal hal manis lainnya yang akan ia lalui nanti.
Sanghee tidak bisa menyembunyikan kesenangannya, hingga ia tersenyum-senyum seperti orang tidak waras.

“Hei! Kau kerasukan setan huh? Kenapa senyum-senyum begitu?” Tanya Ryumi yang melihat gelagat aneh Sanghee
“Hehehehe, kalian berdua! Kau tau… aku benar-benar merasa seperti seorang gadis kali ini”
“Memangnya kemarin kau itu pria?” sahut Hyejin spontan.
“Bukaaaaaan… kau tau? Ada pria yang mengajakku kencan, aaaahhh aku gembira”
“Hei.. hei.. kau ini baru pertama kali diajak kencan oleh pria ya? Kenapa berlebihan begitu” kata Ryumi, Sanghee menggoyangkan jarinya sok.
“Pria ini bukan sembarang pria!” kata Sanghee dengan segala kesotoyannya.
“Mwo? Dia waria?”
“Ya! Bukan! Kalian ini tidak mengerti juga ya!”
“Apasih???” Hyejin frustasi menghadapi Sanghee yang aneeeeeeh sekali hari ini.

“Aku diajak kencan oleh Lee Hyukjae” jawabnya semangat. Hyejin dan Ryumi kembali berpandangan namun kemudian mereka tertawa lagi -______-
“HAHAHAHAHAHAHAHA” tawa mereka meledak diiringi dengan gebukan meja oleh Hyejin (?)
“Kalau tidak percaya lagi?”
“Hahahaha… kau ini kenapa sih? Tadi kau bilang kau dicium Lee Donghae, sekarang kau mau bilang kau akan berkencan dengan Hyukjae Oppa. Kurasa kau sudah gila karena tidak bisa bertemu mereka!” komentar Hyejin puanjaang lebar masih dengan cekikikan kecil.
“Aku serius”
“Aku juga serius Nona Choi”

Aaaaahh! Gadis-gadis ini. Gerutu Sanghee kesal. Namun detik berikutnya ia tersenyum evil, ia ingat bahwa ia sudah punya bukti bahwa ia dekat dengan seorang Hyukjae. Ia kembali mengambil handphone didalam saku blazernya dan sedikit berkutat dengan benda itu.

“Lihat ini” kata Sanghee seraya menyodorkan handphonenya didepan wajah teman-temannya itu, ia memamerkan sebuah selca sempurna dirinya dengan Hyukjae yang terpampang dilayar handphonenya.

“HAH??????” pekik Hyejin dan Ryumi bersamaan, mereka yang tadinya duduk dibangku kantin sekarang terlonjak bangun dan menghampiri Sanghee yang sedang tersenyum puas.
“Hei.. ini editan ya?” Tanya Ryumi memastikan, mereka berdua masih memandang objek didalam handphone Sanghee itu kagum, seakan foto itu adalah sebuah barang antik yang tak bosan untuk dipandang.
“Tidak Ryumi-ya, ini bukan editan! Sanghee benar-benar berfoto dengan Hyukjae Oppa!” sahut Hyejin. “Ya! Choi Sanghee! Kenapa kau tidak bilang daritadi kalau kau punya selca dengan Hyukjae oppa hah?!” omel Hyejin.
“Hahahaa… intinya! Aku tidak berbohong.. aku cantik kan disitu?” narsisnya
“Ish… kapan kau berteman dengannya?? Aish.. aku juga mau berfoto dengan Donghae oppa” kata Hyejin sedikit iri.
“Aku juga mau!” kata Ryumi ikut-ikutan.
“Ckckckck… kalian ini menyedihkan sekali sih”
“Pokoknya kau harus mengajakku bertemu dengan Donghae oppa”
“Tidak mau… kalian harus usaha sendiri”
“Ihh… pelit” cibir Hyejin
“biar :p” Sanghee mehrong pada Hyejin, yang masih kesal.

***
Gadis itu menggosok-gosokan telapak tangannya berusaha membuat dirinya hangat, setidaknya sedikit saja. Ia tak henti-hentinya tersenyum dari tadi. Inikah balasan dari kesedihannya kemarin? Ia akan berkencan dengan Hyukjae sore ini.
Wajahnya terlihat lebih fres karena sapuan make-up halusnya. Ia sempat pulang kerumah sebentar tadi. Membersihkan diri, berdandan dan memilah milih baju. Ia tidak ingin terlihat jelek didepan pria impiannya itu. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai, jaket coklatnya membuat gadis itu terlihat seolah bersinar(?).

Gadis itu melingkarkan syal berwarna senada dengan bajunya itu dilehernya. Begitu sebuah bus dengan arah tujuannya datang. Ia segera naik dan duduk dibangku kedua setelah supir dan duduk anteng disana. Menunggu bus besar itu membawanya ketempat tujuannya. 

Setelah sampai, ia buru-buru turun dari bus itu dan merekahkan senyumannya disana. Gadis itu benar-benar tak sabar dengan apa yang ia lakukan nanti. Kemudian ia melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung besar itu. Berharap menemukan Hyukjae disana.

Akhirnya setelah menaiki lift dan berjalan sebentar, ia akhirnya menemukan pria itu tengah duduk sambil berkutat dengan handphonenya. Sanghee kembali tersenyum, ia buru-buru menghampiri pria itu. “Oppa ~” sapa Sanghee sambil menepuk bahu pria itu. Pria itu terlonjak kaget dan menoleh kearah gadis yang baru saja tiba dibelakangnya.
“Oh.. Sanghee-ya, kau sudah datang?” tanyanya, Sanghee mengangguk riang. “Ne, ah.. ini jaketmu.. sudah kucuci kok” kata Sanghee sambil menyodorkan sebuah bungkusan kepada Hyukjae. “Hahaha, seharusnya kau tidak usah repot-repot mencucinya” “Tapi terima kasih ya” sambungnya. “Hehehe sama sama oppa, oiya.. memangnya kita mau kemana?” Tanya Sanghee
“Maumu kemana? Aku akan mengikuti semua kemauanmu” kali ini Hyukjae kembali bertanya. Sanghee mengelus dagunya sok intelek. “eung ~ bagaimana kalau kita ke taman hiburan?” usul Sanghee. Hyukjae sedikit memiringkan kepalanya kemudian tersenyum. “Keurae ~ kita ke taman hiburan” “Kyaa.. benarkah?? Kita akan ke taman hiburan oppa?” Sanghee masih tidak percaya, nada bicaranya seperti anak anak yang baru pertama kali diajak ke taman hiburan oleh orang tuanya. Hyukjae mengangguk. “Aaaaa… terima kasih oppa”
Entah sesuatu apa yang menyihir Sanghee, gadis ini langsung berhambur ke pelukan Hyukjae secara refleks. Hyukjae langsung membelalakan matanya menyadari Sanghee yang sekarang telah meraih tubuhnya. Detik berikutnya gadis itu terkejut. “Ah maaf…” katanya malu setelah melepaskan pelukannya itu, Hyukjae hanya menunjukan gummy smile andalannya itu kepada Sanghee. “Gwaenchana..” kata Hyukjae akhirnya.

***

Lee Donghae menunjukan ekspresi lelahnya setelah pria itu tiba di sebuah gedung. Ia menjatuhkan tubuhnya tepat disebuah tempat duduk kemudian mendesah kasar. Ia lelah. Tentu saja, semalam ia harus syuting CF terbaru dan sekarang ia sudah berada di gedung agensi yang menuntutnya untuk kembali pemotretan sebuah produk sponsor.
Pria itu menutup matanya sejenak untuk mencari sebuah ketenangan. Entah kenapa, sejak kemarin ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dirinya untuk melakukan sesuatu. Ia begitu tidak tenang. Mungkinkah ia sedang merindukan seseorang? Atau mungkin sedang merindukan seorang gadis yang beberapa hari kemarin selalu ada disisinya dan selalu menganggunya dengan suara berisik ciri khas gadis itu. Donghae kembali membuka matanya dan mendongakan kepalanya ke langit-langit gedung itu. “fuuh~” desahnya keras.

Tiba-tiba telinganya menangkap sebuah suara. Suara seorang gadis yang tidak asing baginya. Mungkinkah itu suara Sanghee? Gadis yang dari semalam mengganggu pikiran Donghae.
Pria itu kemudian menolehkan kepalanya ke suara itu. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Dan benar saja, ternyata pria itu tidak salah. Ia melihat seorang gadis berjaket coklat sedang memeluk seorang pria disana. Mata Donghae membelalak bersamaan dengan jantungnya yang benar-benar sudah tidak bisa diatur kecepatannya.
“Cho..Choi Sanghee” gumamnya tidak percaya, ia terus memandang pemandangan yang begitu menyakitkan baginya. Dadanya begitu sesak sejak matanya menemukan Sanghee dan Hyukjae berpelukan. Tapi ia sama sekali tidak bisa memalingkan wajahnya kearah lain, tubuhnya seakan tak ingin mendengarkan perintah dari otaknya yang menyuruhnya untuk pergi dari tempat itu. Ia masih ingin melihat tubuh gadis itu. Tubuh yang mungkin telah ia rindukan. Gadis yang telah ia rasakan bibirnya kemarin. Lupakan! Itu tidak boleh diingat. Gerutu Donghae sambil bersusah payah mengalihkan perhatiannya.

Pria itu kemudian kembali merilekskan tubuh letihnya dibangkunya itu. Walaupun tentu saja, isi pikirannya masih dipenuhi oleh bayang bayang Sanghee dan Hyukjae tadi.
Donghae mengacak kasar rambutnya frustasi, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Yah, setidaknya ia harus meminta maaf pada Sanghee. Tapi, bagaimana?

Pria itu kembali menolehkan kepalanya kearah Sanghee dan Hyukjae tadi, tapi syukurlah.. sepertinya Sanghee sudah melepas pelukannya bersama Hyukjae.
Donghae menelan ludah, kali ini ia melihat Sanghee sendiri tanpa Hyukjae, entah kemana pergi pria itu. Tapi ia berpikir inilah saatnya untuk meminta maaf pada gadis itu. Dengan langkah ragu, ia berjalan kearah Sanghee yang masih senyum-senyum tidak jelas disana. Jujur saja, Donghae menyukai senyuman itu. Tapi ia tidak suka jika senyum Sanghee kali ini karena perbuatan Hyukjae.

***
“Kau tunggu disini dulu ya.. aku ingin berbicara dengan manajerku sebentar” pinta Hyukjae, gadis dihadapannya mengangguk cepat. “Tentu” jawabnya singkat. Hyukjae tersenyum kemudian melangkah meninggalkan Sanghee sendiri.

Sanghee kembali tersenyum tidak jelas. Ia masih belum ingin menyembunyikan lekukan bibirnya itu. Terlalu senang. Apalagi jika membayangkan apa yang akan ia lakukan bersama Hyukjae nanti. Membayangkan saja rasanya sudah sangat bahagia. Semoga hari ini akan berjalan lancar dan tidak ada yang mengganggu hari yang menurut Sanghee manis ini.

Namun … tiba-tiba gadis itu merasakan sebuah cengkraman, cengkraman lembut dilengannya.
dilihatnya pria yang mencengkram lembut tangannya. “Lee Donghae” ucapnya sedikit tercekat.
Ish, ia masih belum ingin melihat sosok pria ini. Tapi kenapa sekarang ia bertemu dengan Donghae disaat tidak tepat. Ketakutan menyergap tubuh gadis itu ketika tangan Donghae menarik tangannya menjauh. Seolah menyuruh Sanghee untuk mengikutinya. Mata mereka bertatapan sejenak tadi. Donghae menatap langsung mata gadis itu, dengan tatapan yang tulus. Beda dengan kemarin. Tapi Sanghee masih menatap Donghae penuh kemarahan. Tatapan mereka seperti berbeda sangat kontras. “Ikut aku” ujar Donghae pelan,
“Ya!! Mau apa kau huh?”  pekik Sanghee sambil menarik tangannya, namun cengkraman Donghae masih belum bisa diatasi olehnya. Beruntungnya, pria itu tidak membawanya kearah tengah pintu darurat seperti kemarin. Ia hanya menarik Sanghee beberapa langkah dari tempat tadi.

“Maaf” kata itu terucap dari bibir Donghae setelah ia melepaskan cengkraman tangannya pada Sanghee. Sanghee memberikan tatapan pembunuh pada pria yang sekarang berada dihadapannya. “Kau pikir aku bisa menerima kata maaf-mu setelah apa yang kau lakukan padaku kemarin huh? Kau pikir aku ini gadis murahan seperti apa yang kau katakan kemarin?” amarah Sanghee meledak-ledak. Ia menahan segala emosinya dengan mengepalkan tangan kanannya.
air matanya pun sudah ingin jatuh mengenai pipinya. Tapi sekuat mungkin Sanghee menahannya.
Hening sejenak, Sanghee masih menatap Donghae marah, tapi pria itu hanya menundukan kepalanya kelantai. “Baik, lupakanlah apa yang telah terjadi kemarin… aku akan melupakan semua memori-ku tentang dirimu. Anggap kita tidak pernah bertemu. Jangan pernah berbicara denganku lagi karena aku tidak akan pernah menggubrismu” kata Sanghee akhirnya. Ia sudah bersiap akan melangkahkan kembali kakinya meninggalkan Donghae, tapi Donghae sudah lebih dulu menahan tangan kiri Sanghee membuatnya menghentikan langkah kakinya.
“Tak bisakah kau dengarkan aku dulu?” cegah Donghae
“Mwo ? apa yang harus aku dengar darimu? Apakah sebuah cacian seperti kemarin?”
Donghae terdiam sejenak. Ia masih ragu ingin mengatakan ini atau tidak.
“Apa yang aku lakukan kemarin itu… hanya…hanya sebuah keemosianku, aku tidak suka melihatmu dekat dengan Hyukjae, aku tidak suka melihatmu tersenyum bersamanya, aku tidak suka melihatmu yang begitu membanggakan dirinya, aku tidak suka melihatmu disentuh olehnya. Dan aku tidak suka apapun yang kau lakukan dengan dirinya” ungkap Donghae panjang lebar. Sanghee membelalakan sedikit matanya. Ia heran dan bingung. Ia harus merespon apa?
walaupun sejujurnya ia tidak terlalu mengerti apa yang telah Donghae katakan. Kenapa ia membawa nama Hyukjae dalam masalah ini?
“Aku tau, bagimu mungkin Hyukjae adalah yang terbaik, dan … mungkin hanya dia yang bisa membuatmu tersenyum bahagia.. tapi…” Donghae menghentikan kata-katanya.
Sanghee menoleh kearah Donghae sejenak. Ia menunggu Donghae melanjutkan kata-katanya. 
“Tapi mungkin saja, dia bukan yang terbaik untukmu Sanghee-ya” ucapnya lembut. “Kuharap kau mengerti apa yang telah aku katakan” lanjut Donghae akhirnya, ia berjalan melewati gadis itu dan meninggalkannya setelah menatap wajah gadis itu sejenak. Sanghee terasa membatu. Rasanya ia ingin menangis kali ini. Entahlah.. ia merasa ia telah melakukan apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia merasa sepertinya ia telah menyakiti hati seorang pria yang tidak lain adalah Donghae. Tapi ia juga tidak terlalu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Donghae.

“Choi Sanghee” Hyukjae sedikit berteriak. Ia memanggil Sanghee yang tengah berdiri didepan pintu, dan tak jauh dari sana adalah tempat Donghae berdiri, pria itu sempat terlonjak saat Hyukjae memanggil nama Sanghee.

“Oppa!” Hyukjae kemudian tersenyum dan menghampiri Sanghee “Bisa kita pergi sekarang?” tanya Hyukjae. Sanghee masih berusaha untuk mengendalikan pikirannya yang sedikit kacau setelah mendengar kata-kata Donghae tadi. Gadis itu akhirnya menggangguk sambil tersenyum.
“Tentu” jawabnya pelan. Tanpa canggung Hyukjae meraih jari-jari tangan Sanghee kemudian menggandengnya. “Ayo”
Melihat senyuman Hyukjae, Sanghee ikut tersenyum. Keduanya mencoba menghilangkan rasa canggung.

Tapi jauh dibelakang mereka berdua, terlihat seorang pria yang sedang melihat kepergian Hyukjae dan Sanghee dengan kesal. Hatinya begitu teriris sakit melihat Hyukjae menggandeng tangannya dan tersenyum tulus untuk Sanghee. Ada rasa iri yang ia rasakan.

***
Hyukjae masih menggandeng lembut tangan Sanghee ketika mereka sudah berada ditempat parkir. Pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Sanghee, dengan riang gadis itu memasukan tubuhnya kedalam mobil. Dan ternyata menurut Sanghee, Hyukjae adalah pria yang cukup romantis. Ia melakukan hal yang mungkin terlihat kecil, tapi bagi Sanghee itu adalah sebuah nilai plus untuk seorang pria.

Mobil sedan milik Hyukjae melaju ketempat tujuan mereka yaitu taman hiburan, mereka terus berbincang didalam mobil. Sesekali Hyukjae terkekeh mendengar kata-kata Sanghee yang menurutnya sedikit polos dan lucu.

Tak berapa lama kemudian Hyukjae memarkirkan mobilnya ditempat parkiran sebuah taman hiburan. Sanghee membuka pintu kemudian merenggangkan tangannya tepat diluar mobil.
Ia sedikit terkaget melihat Hyukjae yang berdiri disampingnya dengan menggunakan masker yang melapisi hidung dan bibirnya agar tak terlihat. Dan tentu saja sebuah kacamata hitam yang bertengger dihidungnya. “Hahaha .. oppa kau menyeramkan sekali” kata Sanghee terkekeh melihat penampilbertengger dihidungnya. “Hahaha .. oppa kau menyeramkan sekali” kata Sanghee terkekeh melihat penampilan Hyukjae yang aneh.
“Hehe, aku hanya mencoba untuk tidak ketahuan”

Ah, Sanghee hampir lupa bahwa Hyukjae adalah seorang artis. Tapi jujur saja, penampilan Hyukjae yang sedikit menyeramkan itu agak membuat Sanghee jadi tidak nyaman. Ia hanya ingin Hyukjae memakai kacamata saja mungkin. Tapi mau bagaimana lagi? Ia harus menerima semua itu. Itu juga salah satu cara agar tidak terjadi apa-apa pada Sanghee. Ia tak berani membayangkan penggemar-penggemar Hyukjae akan menariknya dan mendorongnya ke lubang buaya (?).

Sanghee dan Hyukjae kemudian berjalan kearah wahana-wahana yang berada disana. Mereka berniat untuk menjajal semua wahana yang ada disini. “Oppa, bagaimana jika kita lebih dulu ke—” belum sempat Sanghee meneruskan kata-katanya, Hyukjae sudah sibuk merogoh saku celanya karena merasakan sebuah getaran disana. Ada sebuah panggilan yang masuk kedalam ponselnya.

“Yoboseyo” sapa Hyukjae pada orang yang baru menelponya itu. “Aku sedang di taman bermain? Wae? Bukankah aku sudah izin padamu? … Apa? Kenapa begitu tiba-tiba? … Aku tidak bisa, aku sedang bersama temanku sekarang..” Hyukjae terlihat begitu kacau, ia bersusah payah bergelut dengan manajernya yang sedang menelponnya.  Sanghee yang berada disampingnya mengernyit heran melihat Hyukjae yang tengah berselisih tegang dengan orang diseberang telponnya.

Sanghee mempunyai pikiran buruk, dan ia berdoa supaya hal itu jangan sampai terjadi. Baru saja ia merasakan kesenangan. Apakah kali ini ia harus kembali kecewa?
“Ayolah… batalkan saja syuting itu, kau bisa menyuruhku syuting 24 jam nonstop besok jika kau memberiku libur kali ini.. aku mohon!... Tidak bisa? Aishh…” Hyukjae menatap Sanghee sejenak. Ia mendengus kasar setelah menatap mata Sanghee kemudian berkata pada orang ditelponnya “Baiklah, aku akan segera kesana” kata Hyukjae mengakhiri sambungan telponnya.

“Oppa, wae gurae?” tanya Sanghee penasaran, sejujurnya ia tau apa yang terjadi karena sedari tadi ia sedikit menguping pembicaraan Hyukjae ditelpon. Tapi ia ingin tau kepastian itu dari mulut Hyukjae sendiri. “Sanghee-ya… mianhe” ucap Hyukjae, raut menyesal terlihat begitu jelas guratan wajahnya. Sanghee menelan ludah. Ia kecewa, sangat kecewa. Kenapa nasibnya begitu naas kali ini? *kok naas sih? ==”*

Okelah, Sanghee harus menerima sesuatu hal yang buruk terjadi seperti ini. “Aku.. aku ada syuting mendadak hari ini.. dan sekarang juga aku sedang ditunggu sutradara di lokasi, aku sangat minta maaf, kita tidak bisa berkencan hari ini” jelas Hyukjae. Sanghee cukup kaget mendengar kata itu. Ia bingung harus berkata dan membalas apa. Tidak mungkin sekali jika ia harus mencegah Hyukjae dan tetap menahannya untuk menjelajahi taman hiburan kan? Sanghee tidak seegois itu.
Sanghee bersusah payah merekahkan senyumannya untuk Hyukjae, ia mencoba sedikit tegar.
“Gwaenchana… lagipula seharusnya aku juga tau, bahwa orang sepertimu tidak bisa bermain-main ketempat seperti ini hehe… aku minta maaf” kata Sanghee
“Anio, Sanghee-ya.. aku yang seharusnya minta maaf.. aku janji padamu, lain kali aku pasti akan mengajakmu lagi, hanya saja bukan hari ini”
“Sudahlah oppa, santai saja.. aku tidak apa-apa kok”
“Ta..Tapi”
“Pergilah… aku tau kau sudah ditunggu sutradaramu kan? Jangan membuat seorang sutradara menunggu oppa” kata Sanghee diakhiri kekehan paksa dibelakang kalimat. Hyukjae tersenyum kemudian mengelus pelan puncak kepala gadis itu. “Terima kasih kau sudah mau mengerti.. dan sekali lagi aku minta maaf” Sanghee mengibaskan tangannya “Tidak apa-apa” ucapnya.

Kemudian pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Sanghee “Ayo kuantar kau pulang lebih dulu”
“Ah tidak usah oppa, aku masih ingin bermain disini… kau pergi saja”
“Tapi aku yang sudah membawa mu disini dan seharusnya aku juga yang mengantarmu pulang kan?”
“Ih, kau ini! Tidak usah!! Pokoknya cepat pergi… aku tak ingin mendengar berita Hyukjae oppa diomeli oleh sutradara..” kata Sanghee seraya mendorong tubuh pria itu masuk kedalam mobilnya. “Hati-hati ya oppa” ujar Sanghee akhirnya. Ia melambaikan tangannya setelah Hyukjae mulai menjalankan mobilnya dan meninggalkan Sanghee yang masih berdiri dan menghembuskan nafas kencang.

***
Sanghee memajukan bibirnya saat ia tengah duduk dibangku di taman hiburan. Ia terlihat tampak seperti orang bodoh yang sedang duduk sendirian. Kesal? Tentu saja, dari tadi ia melihat banyak orang-orang yang berjalan didepannya dan tentu saja mereka berpasangan. Hanya Sanghee mungkin yang disini sendiri tanpa seorang pria yang mendampinginya. Oh kasihan…

“Cish ~ lebih baik aku pulang dari sini” gerutunya kesal lalu mengangkat dirinya dari bangku. Tapi kemudian ia berpikir. Untuk apa sudah jauh-jauh kesini tapi hanya duduk saja?
“Kalau begitu aku beli ice cream saja lah” ucapnya kemudian berjalan ketempat penjual ice cream yang berada tidak jauh dari tempat Sanghee. Ia berdiri didepan si penjual ice cream setelah ia memesan ice cream rasa strawberry.
Setelah sedikit berurusan dengan tukang ice cream Sanghee kembali duduk dibangku taman bermain itu. ia memakan ice creamnya dengan gerakan tidak santai, ia memakan ice cream itu seperti sedang melampiaskan kekesalannya pada ice cream itu.
“Dasar! Kenapa sih aku tidak pernah di senangi oleh pria? Baru saja aku berharap bahwa aku akan melalui hal-hal manis bersama Hyukjae Oppa.. tapi selaluuuu saja ada pengganggunya.. uuuhhhh” gerutunya panjang. Setelah ice creamnya sisa sedikit ia langsung melahap ice cream itu dengan sekali gerakan. Ia terlihat seperti orang mabuk ice cream (?) .

“EHEM !!” tiba-tiba Sanghee mendengar sebuah dehaman yang cukup keras dibelakangnya. Pertama, ia memang mencoba untuk mengabaikannya tapi setelah ia teliti siapa pemilik sebuah dehaman yang sepertinya dari seorang pria itu ia menolehkan kepalanya ke belakang.
“Butuh teman?” tanya pria yang mendeham tadi. Sanghee memutar bola matanya kemudian membuang muka pada pria itu, seolah-olah ia malas meladeni pria itu. tapi memang ia sedang malas meladeni orang itu.
“Hei nona, tidak seharusnya kau mengabaikanku...” kata pria itu. Pria itu beralih berjalan dan duduk disamping gadis itu. Melihat hal itu Sanghee sedikit menggeser tubuhnya untuk sedikit lebih jauh dari pria itu seakan pria itu adalah penyakit menular yang begitu berbahaya.

“Em… aku minta maaf soal kemarin, entahlah sudah berapa kali kuserukan kata maaf itu untukmu..tapi asal kau tau, aku melakukan hal itu kemarin karena aku sedang emosi dan kau bisa bilang aku sedang tidak waras okay? Tapi aku berjanji aku sekarang sudah baik-baik saja dan tidak akan pernah melakukan hal yang aneh-aneh lagi padamu… kau mengerti?” jelas pria itu panjang.

“Kau itu bicara apa sih” Sanghee berkata tanpa menoleh sedikit pun kearah pria itu.
“Kau tidak mengerti? Apa otakmu terlalu bodoh untuk ukuran anak SMA huh?” cela pria itu.
“Berhenti mencelaku Lee Donghae!!! Sedang apa kau disini huh?”
“Ingin menemanimu… kau bilang tadi kau kesepian kan sendiri disini? Sementara tempat ini sebagian besar adalah pasangan kekasih.. apa kau tak merasa risih?”
“Untuk apa aku risih.. aku lebih risih kalau kau ada disini!” katanya ketus, sejujurnya kata-kata Sanghee begitu menghujam jantungnya, tapi mengingat ia harus mendapatkan permintaan maaf dari gadis itu, ia mencoba sebisa mungkin untuk bersabar.


“Baiklah baiklah, apa yang bisa kulakukan supaya kau memaafkanku?” tanya Donghae sedikit frustasi. Sanghee terdiam, sebenarnya ia sungguh malas untuk menjawab pertanyaan. Tapi akhirnya ia menjawab “Bisakah kau mengembalikan mood ku? Mengingat kau pria yang menyebalkan dan mood ku juga sedang jelek karena hal tadi kemungkinan besar kau tidak bisa” kata Sanghee menantang. Donghae memiringkan kepalanya terlihat sedang berpikir. “Oke”
 jawabnya santai seperti tidak ada beban. “Kau menerima tantanganku?” Sanghee menaikkan alisnya “Tentu saja, bagiku itu hal yang mudah” jawab Donghae sok.
“Baiklah.. kita lihat apa yang bisa kau lakukan” Sanghee tersenyum licik. “Oke… kita mulai dari mana?” tanya Donghae. “Em.. belikan aku ice cream” pinta Sanghee
“Hah? Bukankah tadi kau sudah makan ice cream?”
“Iya, tapi sekarang aku ingin makan yang rasa cokelat.. cepat belikan!!” perintah Sanghee setengah berteriak. “Ne ne” jawab Donghae, tanpa basa basi ia langsung melangkah meninggalkan Sanghee ke tempat ice cream. Setelah melihat kepergian pria itu. Sanghee membuka syal warna cokelatnya lalu menguncir satu rambutnya keatas kepalanya dan menyisakan sedikit anak rambut didekat telinganya. Sehingga wajah gadis itu terlihat makin menawan *cielah xD*

Tak lama kemudian Donghae datang dengan sebuah dua buah ice cone ditangannya. Ia memberikan satu cone pada Sanghee yang sedang memasukan syalnya kedalam tas. Gadis itu tersenyum manis saat melihat Donghae memberikan ice cream cokelat itu kepadanya.
Donghae hampir saja menjatuhkan Ice cream ditangannya setelah melihat senyuman Sanghee. Senyuman yang membuatnya membulatkan matanya, tanpa sadar Donghae pun ikut tersenyum.
Dan ia baru saja menyadari bahwa Sanghee mengubah tatanan rambutnya yang tadinya tergerai menjadi dikuncir diatas kepalanya membuat gadis itu memamerkan leher indahnya. Donghae mengalihkan pandangannya pada leher jenjang Sanghee. Kulitnya begitu mulus tanpa cela, putih seputih salju. Kali ini ia harus mengakui bahwa Sanghee cantik dengan memamerkan leher jenjang miliknya. Donghae menelan saliva-nya dengan susah payah. Tidak tidak! Hentikan pikiran gilamu Lee Donghae. Pikirnya memberi sugesti pada dirinya sendiri. Sepertinya ia cukup tergoda dengan leher indah gadis itu.

“Hei! Kau tidak menutup wajahmu?” tanya Sanghee tiba-tiba saat Donghae masih tenggelam dengan lamunannya. Donghae terlonjak kaget. “Hah? Eung.. aku sudah memakai kacamata kan?” jawab Donghae seraya menunjuk kearah kacamata yang telah bertengger dihidungnya.
“Iyasih, tapi tadi Hyukjae oppa memakai masker juga.. kau tidak pakai?”
“Ani.. aku ini terkenal dengan eye smile ku yang begituuu memikat.. jadi bagian terpenting yang harus kututup adalah mata” timpal Donghae santai. “Ish.. disaat seperti ini kau masih bisa narsis ya?” cibir Sanghee masih dengan menyantap ice cream cokelat yang ada ditangannya. Donghae tertawa kecil sambil merapikan topi yang berada diatas kepalanya.

Beberapa menit Sanghee dan Donghae berkutat menghabiskan ice creamnya sambil sedikit berbincang. “Hei, kau merasa lapar tidak?” tanya Donghae memegang perutnya yang sudah mulai keroncongan. “Iya… padahal aku sudah makan dua cone ice cream”
“Ice cream itukan tidak mengenyangkan.. yasudah kita makan saja dulu” ajak Donghae sambil menarik pelan tangan Sanghee kearah restaurant yang akan mereka datangi.

 

***

Sanghee memegang kedua sumpitnya di masing-masing tangannya. Raut wajah kelaparan sudah jelas terlihat. Ia memandang lurus daging-daging yang sudah teriris tipis-tipis didepan meja beserta sayur-sayuran pelengkap. Perutnya sudah mulai ber-marching band setelah melihat daging-daging yang sudah hampir matang itu. “Hm~ wanginya” seru Sanghee riang.
“Makanlah…” tawar Donghae, gadis itu langsung cekikan memamerkan deretan gigi putihnya. Tangannya dengan lincah mengambil makanan dan potongan daging yang sudah tersaji disana. Perlahan tapi pasti dan potongan demi potongan sudah berada dalam mulutnya hingga mulutnya penuh dengan makanan. Ia mengunyah makanan itu dengan semangat. Seakan tidak peduli dengan keberadaan seorang pria dihadapannya. Pria itu kini tengah tertawa melihat kelakuan Sanghee.

“Enak?” tanya Donghae yang juga sedang menyantap masakan itu. Sanghee mengangguk cepat. “Enuaak…seukalli” jawab Sanghee tidak jelas mulutnya masih dipenuhi dengan makanan.
“Habiskanlah”
“Tentu saja, aku pasti bisa menghabiskannya hehe” katanya sedikit tertawa.

“Tunggu…” setelah menghabiskan suapannya Sanghee memajukan tubuhnya kearah Donghae. Donghae bisa merasakan jantungnya yang berdetak jauh lebih cepat saat gadis itu menatap matanya yang tertutup kacamata. Gadis itu kemudian beralih menarik kacamata yang sedari tadi bertengger dimata Donghae dan membiarkan mata Donghae terlihat tanpa ditutupi kacamata lagi.
“Hei kau gila???” Donghae gelagapan kemudian mencoba mengambil kacamatanya. Namun sayang kacamata hitamnya itu sudah Sanghee masukan kedalam saku jaketnya.
“Tenang saja, tak akan ada yang tau itu kau.. aku sedikit tidak suka melihat seorang makan dengan kacamata hitam.. seperti penjahat saja” kata Sanghee kemudian melanjutkan makannya. Donghae menatap Sanghee dengan pandangan yang tidak biasa. ia sedikit tersenyum misterius melihat Sanghee yang tengah menyantap makanannya.

Donghae melayangkan sumpitnya kearah mulut Sanghee mengharapkan gadis itu menangkap suapannya. “Makan ini” suruh Donghae. Sanghee mengernyit. “Kau tidak memasukan racun kan?” tanya Sanghee curiga “Tidak! Setiap aku makan makanan yang begini.. aku punya cara sendiri dan rasanya akan lebih enak… Cobalah” jelas Donghae.
Sanghee menatap takut-takut daging yang terbalut daging hijau itu. tapi kemudian ia membuka mulutnya dan menangkap suapan Donghae. Ia mengunyah perlahan-lahan dan menghabiskan suapannya tapi kemudian Sanghee meringis “Ya!! Ini pedas sekali!!! Kau gila ya!!! Hoaahh fuuuff hooaahh pedaaaaaaaaaaass” erangnya menjulurkan sedikit lidahnya yang kepedasan.
“Tanggung jawab kau !!!” gerutu Sanghee sebal. “Hahahahahahahahahaha…Minum saja” kata Donghae terkekeh. Sanghee meneguk minuman sebanyak-banyaknya demi menghilangkan rasa pedas itu. “Eum… tapi enak juga… aku mau lagi” pinta Sanghee dengan tatapan polos.
“Hah? Kau sudah kepedasan sekarang kau minta lagi?” Donghae heran, ia sempat berpikir kenapa gadis ini begitu aneh?
“Sudahlah… aku minta lagii!! Cepat suapkan… Aaaa~” Sanghee sudah siap membuka mulutnya untuk menyambut suapan Donghae. “Tidak mau”
Mendengar kata Donghae, Sanghee langsung memajukan bibirnya kesal. Terlihat sangat lucu di mata Donghae, pria itu kembali tertawa lebar. “Kau benar-benar lucu Sanghee” katanya tulus. Ia masih tertawa, matanya membentuk sebuah eye smile yang begitu memikat. Sanghee hampir tidak berkedip melihat bentuk mata pria itu ketika tertawa. Baru ia sadari senyuman pria itu begitu menenangkan hatinya, jantungnya pun terasa sedikit lebih cepat. “Oh… kenapa jadi berdebar begini?” tanya Sanghee dalam hati. Ia begitu heran. Kenapa ia bisa begitu berdebar saat melihat senyuman Donghae, apa mungkin gadis itu menyukainya?

***
Langit di kota Seoul hari ini begitu cerah. Mungkin itu akan menjadi pendukung dalam misi Donghae untuk mengembalikan mood Sanghee. Ia sudah bisa melihat gadis itu tersenyum di restaurant tadi. Donghae senang jika gadis itu pun senang. Betapa bangganya ia melihat gadis itu tersenyum karenanya tadi.

“Huuummm… Aku kenyang.. makanannya lezat sekali” didepan restaurant itu Sanghee memegangi perutnya yang terasa sudah penuh. “Kau suka?” tanya Donghae.
Sanghee tersenyum kemudian mengangguk ceria. “Ne, terima kasih ya” tuturnya tulus. Hati Donghae kembali berbunga-bunga. Baru kali ini ia mendengar kata ‘Terima Kasih’ keluar dari mulut Sanghee. Pria itu kembali tersenyum kemudian meraih tangan Sanghee dan menggenggamnya lembut. Tapi Sanghee tidak menolak saat melihat senyuman Donghae. Entah, ia seperti sudah terhipnotis oleh senyuman pria itu.

 “Mau merasakan hal yang lebih menarik lagi?” tanya Donghae. Sanghee terlihat tertarik, ia kemudian mengiyakannya dengan berkata “Boleh”

***

TBC

My Lovely Idol | Part 5

Diposting oleh Icha Elias di 01.27 0 komentar


Tittle : My Lovely Idol
Author : Icha Elias or Ummu Aisyah (@MrsEliasChoi on twitter)
Rating : PG 13
Length : Series
Repost from :  http://mrschoiminho.wordpress.com/
Cast : Choi Sanghee, Lee Donghae, Lee Hyukjae and all others

 
Kemarahan terlihat jelas dikedua matanya. Dengan semua emosi yang ada didirinya pria itu berjalan dengan setiap langkah berat akan kemarahannya. Sesungguhnya ia tidak punya hak sama sekali untuk marah. Siapa dia? Apa hubungan dia dengan gadis yang sedang duduk bersama pria lain didepannya? Bisa dibilang hanya hubungan seorang majikan dengan pembantunya. Apakah seorang majikan melarang pembantunya untuk bersama pria lain? Jika ada alasan lain mungkin iya.

Pria itu semakin mendekatkan jaraknya kemeja itu. Tanpa ba bi bu ia langsung menyambar kerah kemeja pria satunya lagi yang sedari tadi sedang duduk bersama gadis itu.
“Hei ! apa – apaan kau?” protes pria itu
“Apa yang kau lakukan?” Tanya pria yang masih mencengkram kerahnya kasar
“Lee Donghae !! apa yang kau lakukan !!” satu – satunya gadis diantara mereka ikut angkat bicara. Ia terkejut bukan main. Donghae mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
“Choi Sanghee, apa yang kau lakukan dengannya? Dasar gadis murahan” tukas Donghae tajam, ia menggertakan giginya lalu menghempaskan tangannya dari cengkraman kerah Hyukjae kasar.
Ia berjalan ketempat Sanghee berdiri. “A..apa? sebenarnya kau itu kenapa?” tanyanya. Sejujurnya ia takut dengan Donghae kali ini.

Sorot mata pria itu kini dipenuhi dengan kemarahan yang ada di jiwanya. Bukan menjawab pertanyaan Sanghee, Donghae malah menarik lengan Sanghee kasar. Membuat gadis itu meringis karena tangan Donghae terlalu keras mencengkram lengan tangan kanannya. Ada apa dengan pria itu?

“Ikut aku !!!” ucapnya masih dipenuhi api cemburu yang membara dijiwanya.
“Pelan – pelan .. sakit” ringis Sanghee. Tapi pria itu tak peduli, ia tetap menarik gadis itu kasaar. Namun langkahnya terhenti ketika menyadari ada tangan lain yang menarik tangan Sanghee juga. Ia sudah bisa menebak siapa orang itu. “Lepaskan tanganmu Lee Hyukjae” ujarnya menatap mata Hyukjae penuh emosi. “Bukankah seharusnya kau melepaskan cengkraman tanganmu? Kau tidak lihat gadisku kesakitan karena kelakuanmu Lee Donghae?” balas Hyukjae tak mau kalah, ia semakin membuat amarah Donghae melupa. Apalagi setelah mendengar kata ‘gadis-ku’ dari bibir Hyukjae barusan. Sanghee semakin merasa ketakutan. Kenapa kedua pria yang sebelumnya baik – baik saja menjadi ganas begini. Seharusnya ia sedikit bangga karena ia sedang direbuti dua idola. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk berbangga. Dan yang paling penting sekarang adalah mereka mencengkram erat kedua tangan Sanghee hingga membuat tangannya sedikit sakit.

“Lepaskan tangannya jika kau masih ingin hidup Lee Hyukjae-ssi” perintah Donghae ketus.
Sempat terjadi tarik menarik (?) antara mereka berdua. Dengan satu objek. Gadis bernama Choi Sanghee itu. “Kau mau apa pada Sanghee ? kau cemburu ? kenapa kau tidak akui saja itu Donghae ? kau marah kan melihat kedekatanku dengan Sanghee yang terlihat seperti seorang kekasih. Kebetulan kami akan meresmikan hubungan kami tadi.. sayangnya kau datang mengganggu kami! kami akan menjadi sepasang kekasih” ucap Hyukjae panjang lebar. Terlihat sekali ia sedang membuat api panas dihati Donghae. “Lihat .. wajahmu begitu menyedihkan sekarang Lee Donghae!”
“TUTUP MULUTMU” teriak Donghae membahana. Hyukjae tertawa mengejek. “Lepaskan tangan gadisku Lee Donghae” ucap Hyukjae yang menatap Donghae tajam. Mereka berdua masih memberikan tatapan pembunuh disana. Bukannya menuruti kata – kata Hyukjae, Donghae semakin mempererat cengkraman tangannya di lengan Sanghee
“Donghae-ya, sakit!!” gumam Sanghee
“Kau dengar itu ? tangan gadisku sakit.. ayolah lepaskan, aku tidak tega mendengar itu Lee Donghae” “Oppa hentikan” kata Sanghee pelan pada Hyukjae. Karena jika Hyukjae tetap mengkompori Donghae, pria itu tak akan melepaskan tangannya. Dengan sekali hentakan Donghae kembali menarik tangan Sanghee kasar dan membuat Hyukjae tergelak hingga melepaskan cengkramannya di tangan Sanghee. Donghae tersenyum sinis kearah Hyukjae kemudian berjalan dengan masih tetap menarik tangan gadis itu kasar.

“Jangan mengikutiku Lee Hyukjae”
“Kau akan mati jika menyentuh Choi Sanghee!”
“Oh, bukankah kau lebih dulu menyentuhnya?” Donghae kembali berjalan diikuti Sanghee dibelakangnya. Gadis itu hanya pasrah menerima cengkraman kasar pria itu, ia tidak bisa melakukan apapun. Ia juga tidak bisa memberontak! Tenaganya tak cukup kuat untuk melawan Donghae yang seorang pria.

Ketakutan menyerbu tubuh gadis itu ketika Donghae memaksanya ikut kelantai atas yakni lantai yang sepi dan tak ada tanda – tanda kehidupan atau orang – orang disana. Kemudian Donghae menariknya kesebuah ruangan. Seperti pintu darurat. Dan ternyata benar, dibalik pintu darurat itu banyak sekali anak tangga.
kenapa tempat ini begitu sepi? Tuhan, tolong aku. Sanghee bergumam cemas.
“Lepaskan tanganku! Mau apa kita kesini” Sanghee akhirnya membuka suaranya setelah beberapa lama terpendam ditenggorokannya. Matanya sudah mulai memerah, ia ingin menangis karena terlalu ketakutan dengan pria itu.

“Donghae-ya.. kumohon lepaskan tanganku” pintanya lemah. Donghae ingin menuruti keinginan gadis itu. Tapi ia takut gadis itu akan kabur.
Bukannya mengabulkan keinginan Sanghee, Donghae malah menghempaskan tangan Sanghee dan mendorong kasar tubuhnya. Hingga membuat Sanghee tersungkur dilantai. “ahh” erangnya.

“Gadis murahan!” ketus Donghae tajam, ia memamerkan senyuman jahatnya dan berjongkok didepan Sanghee. Tepat didepan wajahnya adalah wajah gadis itu.
“Kau itu tidak cantik! Sadari itu nona! Jangan harap kau akan membuat Hyukjae jatuh hati padamu” tambah Donghae, mata Sanghee makin memerah. Air mata berada diujung mata Sanghee, tatapan mereka tertaut beberapa centi saja. Hanya dengan beberapa centi lagi mungkin Donghae sudah merebut ciuman Sanghee.

Masih dengan berjongkok, Donghae merangkakan kakinya maju sementara Sanghee yang masih terduduk dilantai menggerakan tubuhnya mundur menjauhi Donghae. Pria itu begitu mengerikan saat ini. “Kenapa? Kau takut padaku? Ayolah.. aku bisa memberimu lebih daripada sentuhan Hyukjae tadi” Donghae beralih meraih kemeja dari seragam sekolah Sanghee, ia melepaskan satu buah kancing teratas kemeja gadis itu.
“Andwae !!!” pekik Sanghee
“Wae? Bukankah aku membayarmu mahal? Memangnya berapa banyak yang Hyukjae bayar untukmu huh? Tak sebanding denganku kan?” Donghae membelai rambut hitam gadis itu.
Dan akhirnya Sanghee meneteskan air bening dari kedua matanya. “kenapa menangis? Kau tetap gadis murahan dimataku nona”
“Hentikan!!! Aku bukan gadis murahan!!!” teriak Sanghee sambil terisak. Saying teriakannya tak terdengar siapapun. “Cish.. mari kita buktikan nona” Donghae mendorong kasar kembali pundak gadis itu, membuat Sanghee terbaring dilantai. Kedua tangannya berada didua sisi lantai disamping wajahnya, seakan mengunci langkah gerakan gadis itu agar tak memberontak. Air mata yang ditimbulkan dari mata Sanghee semakin deras hingga membuat sungai kecil dpipinya.

Donghae menghapus air mata itu, menyekanya lembut. Tapi bukan dengan jari-jarinya melainkan dengan bibir! Donghae menghapus air mata itu dengan bibirnya, ia menghisap air mata itu dan menyapukannya kepipi Sanghee. Gadis itu membelalakan matanya lebar. Ia merasakan tubuhnya kaku dan menempel pada lantai. Ia tidak bisa melawan. Apa yang akan dilakukan Donghae lagi nanti?
Ia terus mencium bagian dan lekuk wajah Sanghee. Hingga terhenti disatu muara yaitu bibir cherry mungil milik Sanghee. Sanghee merasakan sentuhan yang halus dan lembut dibibirnya. Ciuman pertamanya ia berikan pada Donghae. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mendorong tubuh pria itu, tapi mustahil! Pria itu terlalu kuat untuknya. Donghae semakin memperlama ciumannya. Sesuatu lembut dan halus bagi Sanghee itu adalah bibir Donghae? Basah dan juga… manis. Donghae masih memejamkan matanya merasakan rasa bibir mungil Sanghee itu. Ia mencium ganas dan melumat bibir Sanghee dan membuat Sanghee memukul-mukul dada pria itu agar melepaskan ciumannya. Rontaan Sanghee semakin kencang. Ia benar – benar tak bisa menghindarinya tapi gadis itu bisa merasakan kelembutan dan ketulusan disana. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan saat Donghae membungkam dan melumat bibirnya. Ini adalah detik terlama dalam hidup gadis itu. Sudah beberapa detik Donghae belum juga melepaskannya sementara gadis itu masih meronta-ronta ingin terlepas.

Air mata Sanghee mengenai wajah Donghae, Donghae membuka matanya ketika ia rasakan setitik air membasahi wajahnya. Donghae melepaskan ciumannya dari bibir gadis itu dan memandangnya dalam. Wajah Sanghee basah, rambutnya acak – acakan, ia masih terbaring dihadapan Donghae dan menatap pria itu ketakutan bercampur marah.

Menyadari kebodohan tingkahnya Donghae menjauhi wajahnya dan menunduk, tak berani menatap mata Sanghee yang masih menatap penuh kesal. Apa yang telah kulakukan? Rutuknya dalam hati. Ia sudah gila.

PLAKK!! Tangan Sanghee melayang ringan mengenai pipi kiri Donghae. Donghae memegang pipinya yang habis terkena tamparan Sanghee. Tamparan itu belum apa – apa dibanding perilaku pria itu yang baru saja melecehkan Sanghee.
“Kau jahat Lee Donghae” tudingnya tajam. Sanghee merapatkan kembali jas sekolahnya dan berdiri mengangkat tubuhnya lalu angkat kaki dari tempat itu, ia berjalan meninggalkan Donghae yang masih terduduk diam dilantai dengan pandangan kosong. Apa yang harus pria itu lakukan? Meminta maaf? Ia sangat yakin bahwa sebuah kata maaf takkan cukup.

Sanghee mempercepat langkah kakinya untuk keluar dari gedung itu. Ia benar-benar tak ingin berada ditempat itu lagi terlebih jika melihat wajah pria kurang ajar yang tadi menciumnya. Ia menangis pada dirinya. Isakan terdengar jelas disana. Penampilannya pun sungguh kacau, rambut semi ikalnya terlihat acak-acakan, wajahnya basah, seragamnya sedikit kotor. Ia terlihat sungguh mengenaskan. Ia masih terisak, Sanghee benar-benar tak mampu menyembunyikan tangisannya. “Eomma.. Appa.. eottohkae?” gumamnya ditengah isakannya. Sekarang ia sudah berada tepat digedung itu, terduduk lemas sambil memeluk lututnya dan membenamkan kepalanya. Ia menangis kencang disana.

Terlihat seorang pria menghampiri gadis yang tengah berjongkok itu. Ia menatap gadis itu iba. Ia tau Donghae pasti habis melakukan hal yang buruk padanya. Gadis itu terlalu berharga bagi Hyukjae untuk disakiti pria. “Sanghee-ya”

Sanghee mendongakan kepalanya menatap wajah orang yang baru saja memanggilnya. Menyadari itu Hyukjae, ia buru-buru menghapus air matanya dengan tangannya walau isakan masih terdengar meskipun sudah agak mengecil.
Hyukjae mengulurkan tangannya didepan wajah gadis itu. Sanghee merespon dan meraih tangan Hyukjae hingga gadis itu bisa berdiri tegak.
Hyukjae memperhatikan penampilan gadis itu. Baju seragam, rambut dan wajahnya terlihat sangat berantakan.
“Kau baik-baik saja? Apa yang Donghae lakukan padamu?” Tanya Hyukjae khawatir, Sanghee belum menjawab, ia masih menstabilkan tangisannya yang untungnya sudah bisa ia kendalikan.
“Kau tidak apa-apa kan?” ulang Hyukjae, ia benar-benar khawatir. Sanghee membuka mulutnya dan berkata “Aku tidak apa-apa oppa. Jangan mengkhawatirkanku” Hyukjae menepuk pipi Sanghee lembut. “Kau mau kuantar pulang?” gadis yang ditanya itu menggelengkan kepalanya. “Tidak usah.. aku bisa pulang sendiri”
“Baiklah, tapi kau akan langsung pulang kan?” kali ini Sanghee mengangguk. Kemudian Hyukjae melepas jaket yang sedari tadi dipakai olehnya dan menyampirkannya ditubuh gadis itu. Ia menyelimuti Sanghee dengan jaketnya sendiri. Membalut seragam sekolahnya yang terlihat kotor itu agar Sanghee tidak kedinginan.

“Oppa” Sanghee sedikit terkaget, Hyukjae mengangkat alisnya “udaranya sangat dingin, pakailah” gadis itu hendak menolak, namun memebatalkannya ketika Hyukjae menatap matanya. Lalu ia hanya bergumam
“Terima kasih” pria dihadapannya tersenyum. “Pulanglah..” Sanghee mengangguk kemudian membungkukan sedikit badannya pada Hyukjae. “Hati-hati” ucapnya mengacak rambut Sanghee, tanpa berlama-lama lagi gadis itu langsung berjalan meninggalkan Hyukjae. Sementara pria itu hanya mendengus setelah melihat bayangan gadis itu mejauh dari hadapannya.

Hyukjae berjalan pelan kembali memasuki gedung agensi itu, setelah ia memastikan Sanghee masuk kedalam sebuah bus hijau tadi, ia khawatir. Tentu saja, penampilan Sanghee tampak sangat berantakan setelah ia bertemu Donghae beberapa menit yang lalu.
Sebenarnya apa yang Donghae lakukan tadi sih? Hyukjae menghembuskan nafasnya kasar.
Mata pria itu sedikit membulat melihat Donghae yang sedang berjalan menuju sebuah ruangan beberapa meter dihadapannya. Tanpa ba bi bu Hyukjae langsung berniat menghampiri pria itu.

Donghae berjalan sambil menundukan kepalanya, tatapannya terarah kosong kebawah lantai yang ia pijak. Ia merasa.. seperti sedang menyesal. Dan ia berpikir apa yang harus ia lakukan?
Karena ia sangat yakin bahwa gadis yang baru saja ia cium itu takkan mau bertemu dengannya lagi, atau bahkan melihat wajahnya.
Ia terlalu gegabah tadi, seharusnya iatak melakukan itu. Memang siapa dia? Gadis itu hanyalah gadis menyebalkan yang baru saja ia temui beberapa hari yang lalu. Tapi sepertinya perasaan Donghae mulai berubah. Ia harus menyadari bahwa perasaanya pada gadis yang baru saja ia kenal itu sudah berubah menjadi sebuah cinta. Mungkin kah? Sangat mungkin, buktingya ia cemburu pada Hyukjae, apa lagi namanya kalau bukan cinta?

“Hei” Donghae sedikit terlonjak kaget setelah mengetahui seseorang memanggilnya dan menyentuh bahunya, ia membalikan badannya kemudian “Bukkk!!” sebuah pukulan melesat mulus kepipi kirinya. Sudah dua kali ia mendapat sebuah pukulan hari ini. Pertama dari Sanghee dan yang kedua dari Hyukjae. Nasibnya sedang apes -__- *sabar ya appa sayang*

“Ya!! Apa yang kau lakukan??!!” Donghae yang tidak terima dengan perlakuan Hyukjae langsung membalas tatapan sangar pria itu, sambil mengelus pipinya yang sedikit mengeluarkan darah merah pekat dari ujung bibirnya. *wooyyyy… eunhae berantem!! #ngaduketeuki (?)*

Kali ini Hyukjae beralih meraih kerah Donghae dan menatap geram pria itu.
“Apa yang kau lakukan pada Sanghee?” tanyanya yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
Donghae hanya membalas tatapan geram Hyukjae kemudian tertawa kecil seperti meremehkan pria itu. “Apa yang kau tertawakan?” desak Hyukjae, ia masih mencengkram keras kerah baju Donghae “Cish.. kau itu sangat lucu Lee Hyukjae, ada urusan apa kau dengan Sanghee.. aku melakukan apapun padanya itu bukan urusanmu kan? Urus saja dirimu sendiri” jawabnya acuh tak acuh. Hyukjae menggertakan giginya kesal. Ia sudah mempersiapkan kepalan tangannya untuk memukul kembali wajah pria itu. “Kau pikir aku tega melihat Sanghee dengan keadaan begitu huh? Apapun yang telah kau lakukan padanya kau sama sekali tidak pantas menjadi seorang pria” Hyukjae kembali melayangkan tangannya sebelum Donghae berkata “Lakukan!! Pukul saja aku, buat aku babak belur jika itu membuatmu puas Hyukjae-ya” katanya menantang, tapi seperti ada nada kepasrahan disana(?)


Hyukjae mengerang sebal kemudian menurunkan kepalan tangannya itu begitu juga dengan cengkraman tangan satunya dikerah Donghae. Ia memilih untuk meninggalkan pria itu daripada sia-sia untuk membuang tenaganya dengan memukul Donghae.

Sementara Donghae memerosotkan tubuhnya disebuah dinding dan mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Bodoh! Kau bodoh Lee Donghae. Banyak sekali sesuatu yang harus ia sesali hari ini. Salah satunya apa yang sudah ia lakukan pada Sanghee tadi. Menyesal seperti ini memang tak ada gunanya, dan intinya ia harus meminta maaf pada gadis itu. Tapi bagaimana?

 
***

 
“Braaakkk!!” pintu depan rumah menjeblak terbuka ketika seorang pria tengah bersantai menaikan alisnya ketika melihat adik perempuannya yang baru datang dengan penampilan yang agak berantakan
“Hei.. Choi Sanghee, kau kenapa?” tanyanya ingin tau, gadis itu tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan menuju kamarnya dilantai atas. “Ya! Aku bertanya padamu? Lalu kau darimana? Kenapa bisa pulang sesore ini? hei kau habis berkencan ya?!!” beberapa pertanyaan terlontar dari bibir kakaknya. Tapi adiknya sama sekali tidak menjawab, Siwon mendengus ketika adiknya sama sekali tidak merespon pertanyaannya. Tidak biasanya Sanghee mengabaikanku. Dasar anak-anak. Gumamnya sebal. *iya om om*

Gadis itu membuka pintu kamarnya dengan gerakan tidak santai, pipinya yang tadinya membasah kini mulai mongering, tapi matanya masih merah akibat air mata yang terlalu banyak ia keluarkan tadi. Dari perjalanan kerumahnya pun Sanghee cukup menjadi perhatian orang-orang sekitar karena tampangnya seperti habis dibully (?)

Sanghee melemparkan dirinya keatas ranjang dan membenamkan wajahnya dibantal miliknya, tas sekolahnya ia lemparkan sembarangan begitu saja. Seakan tak punya semangat hidup lagi, tubuh Sanghee lemas tak berdaya. Ia pun tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ingin sekali ia membunuh Donghae dengan mencekik leher pria itu, tapi tidak mungkin ia benar – benar melakukannya kan?
Sanghee mengerang sambil mengacak – acak rambutnya. Ia bingung, sangat bingung. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia takkan pernah mau melihat wajah Donghae lagi. Iya, tidak akan!

Sanghee mengangkat dirinya dan beralih berjalan menuju kamar mandi dikamarnya. Ia menghadapkan dirinya didepan cermin, yaampun begitu mengerikan dirinya disana. Wajahnya yang berantakan terlihat semakin terlihat berantakan  *ett author begimana sih? ==”* ketika ia melihat tampangnya dicermin. Kemudian ia membasuh dirinya dengan kucuran air dikeran wastafelya.
“Huufft…” desahnya dan mengusap wajahnya yang basah dengan handuk kecil. Ia kembali mencatutkan dirinya didepan cermin dan memandang wajahnya lekat-lekat disana.

“Hei.. kenapa kau jadi lemah begini?” tanyanya pada diri sendiri kearah cermin.

“Bukankah seharusnya kau bersyukur, kau telah merasakan bibir Lee Donghae yang notabene adalah seorang artis hah?”

“Tapi tidak …. Dia telah mengataiku macam – macam tadi, tak seharusnya aku senang”

“Lalu kenapa kau menangis?”

“Heh.. aku menangis karena pria bodoh itu telah merebut ciuman pertamaku! Aish… bibirku jadi tidak asli lagi”

“Lalu kalau hanya sebuah ciuman yang direbut kenapa? Bukankah tak akan mempengaruhi apa-apa, kau takkan hamil hanya karena sebuah ciuman Choi Sanghee”

“Tetap saja!! Ciuman pertama itu sangat berharga bagi seorang gadis.. mau dikemanakan harga diriku ini!!”

“Tidak akan kemana-mana… gadis-gadis lain pasti akan bahagia jika Donghae menciumnya seperti yang ia lakukan padamu”

“Tapi aku kan tidak menyukai Donghae! Melihat wajahnya saja aku muak”

“Kau bodoh Sanghee”
“Iya, aku memang bodoh”

Bagaikan orang gila, Sanghee berbicara sendiri didepan cermin wastafelnya. Ia seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri dan pikirannya yang begitu berkecambuk didalam otaknya, ia hanya ingin mencari solusi, apa yang harus ia lakukan setelah ini.

Sanghee memutar otaknya. Sebenarnya tak ada yang perlu ia lakukan. Lupakan Lee Donghae dan anggap saja ia tidak pernah bertemu dengan pria itu, anggap beberapa hari ini ia terkena bencana yang amat besar hingga bertemu dengan Donghae. “Iya, itu yang harus kulakukan! Lupakan lupakan!! Jalani hidupmu Sanghee, temukan saja pangeran bisa merebut hatimu dan lupakan hal hal bodoh yang mengganggu pikiranmu” Sanghee mengangguk mengerti kemudian tersenyum kecil. Walau hatinya masih terasa mengganjal.


***

 
Suasana dikantin sekolah itu sangat ramai, banyak para siswa atau siswi yang sedang makan minum disana sambil bergosip ria. Tak berbeda dengan sebuah meja yang berisi tiga orang gadis itu, mereka menghabiskan makanannya sambil mengobrol ringan disana. Salah satu gadis disana memulai pembicaraan dengan membuka sebuah topik.

“Hei kalian” ujarnya pada kedua sahabatnya yang duduk dihadapannya.
“Ne…”
“Err.. aku ingin bercerita sesuatu dengan kalian, tapi aku malu”
“Cerita apa?” sahut temannya yang bernama Ryumi. “Sejak kapan kau punya malu huh?” tambah Hyejin –yang juga temannya- blak blakan.
“Aissh.. kalian ini!!!” Sanghee sudah mengebrak meja untuk melupakan kekesalannya pada gadis gadis sahabatnya itu. “Hahah.. bercandaaaaaaaaa… mau cerita apasih?” Hyejin penasaran
“I..itu.. i…ini rahasia yaa..” Ryumi dan Hyejin mengangguk pelan.
“Umm.. apa kalian pernah merasakan”
“Merasaka apa??” potong Ryumi penasaran karena Sanghee member jeda dikata – katanya tadi.
“First kiss” ucapnya agak ragu, Hyejin dan Ryumi saling bertatapan sejenak. Mereka heran, kenapa tiba-tiba Sanghee bertanya begitu. “Kenapa tiba – tiba kau-”
“Ahh! Biar aku jelaskan, aku hanya ingin tau bagaimana reaksi kalian jika ada seorang pria yang dengan kurang ajarnya merebut first kiss kalian? Apa kalian harus membunuhnya?”
“Tergantung sih” jawab Hyejin spontan
“Hah?” Sanghee mengernyit
“Yang menciummu itu siapa dulu? Kalau pacarmu sih tidak apa-apa.. tidak perlu dibunuh” jawab Hyejin asal. “Berarti kau pernah merasakannya bersama Choi Minho ya?” tebak Sanghee.
“Ya tentu saja! Ehh… astaga kenapa jadi aku yang keceplosan… sial kau Sanghee” Hyejin keceplosan, dengan kebodohannya ia ketauan pernah melakukan itu bersama Minho kekasihnya -__-
“Wahahahahahahahaha … kena kau”

“Kau bertanya begitu apakah kau juga sudah melakukannya huh?” Ryumi mencoba menebak gelagat Sanghee yang sekarang sudah berubah menjadi salting. “Tidak, bukan.. bukan begitu.. anu..” Sanghee tiba-tiba menjadi gugup. Siapapun yang melihat ekspressi dia saat ini. Sangat bisa menebak ada sesuatu yang ia sembunyikan. Sementara kedua gadis dihadapannya menatapnya curiga sambil menaikan alis mereka “Aha! Aku tau itu Sanghee… katakan padaku siapa yang menciummu”
“Aku tidak mengatakan aku sudah berciuman, lagipula dengan siapa aku melakukan hal gila itu”
“Ahahahah tidak usah mengelak, aku tau dari gelagatmu sayangkuuu… beritahu aku!! Atau aku akan mengadu pada Siwon Oppa! Ayo katakan!!” desak Hyejin paksa, sementara Sanghee hanya menggelengkan kepalanya. “apa jangan – jangan yang menciummu itu si pria kebangsaan Thailand itu huh? Siapa namanya? Nihan? Nikhaan?” Ryumi masih menebak – nebak.
“Nickhun…” sahut Sanghee mengkoreksi. “Nah.. itu dia, kau berciuman dengannya huh?”
“Tidak!! Dia hanya mantan kekasihku! Tidak lebih.. ara? Jangan pernah mengkaitkan apapun dengannya lagi” Suara Sanghee meninggi setelah mendengar kata ‘Nickhun’ dari sahabatnya itu. *bagian ini gajeeeeee… mian yaaa.. aku mumet T.T*

“Kalau begitu siapa?” Hyejin setengah berteriak, suaranya berhasil mengalahkan suara Sanghee yang tinggi tadi. Ia sangat penasaran dengan gadis itu. Hampir saja ia mematahkan sendok yang sedari tadi ia pegang. “umm… Lee” ucapnya ragu ragu sambil menundukan kepalanya.
“Lee?”
“Lee Donghae” jawab Sanghee cepat, Hyejin dan Ryumi membelalakan matanya dan didetik kemudian mereka berdua tertawa terbahak – bahak. Seluruh isi kantin menoleh kearah meja Sanghee, Ryumi dan Hyejin karena mereka begitu berisik, padahal hanya bertiga -__-

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA” tawa mereka berdua membahana, mematahkan keheningan kantin. Untung tidak ada sendok, mangkuk ataupun pisau mendarat dikepala mereka .___.

“Kalian tidak percaya ????” bukannya tidak menjawab pertanyaan Sanghee, Hyejin dan Ryumi makin terbahak geli. “Hei berhenti tertawa … memalukan sekali sih kalian” gerutu Sanghee sebal.


Setelah bisa mengendalikan tawa mereka, Hyejin beralih menatap mata Sanghee masih dengan iringan tawa kecil “heheh.. kau itu lucu yaa.. lelucon apasih yang kau buat? Aku yang begituuuuuuuuu mengidolakan Donghae oppa saja tidak berani mengakui kalau dia telah menciumku.. hehe” jelas Hyejin dengan cekikikannya.

“Hahaha kau lucu juga.. bukankah kau lebih menyukai Hyukjae oppa? Kenapa tidak sekalian kau bilang kalau kau dihamili oleh Hyukjae huh?” gurau Ryumi masih mengendalikan tawanya.

Benar kan, gumam Sanghee dalam hati. Teman – temannya pasti tidak ada yang percaya dongeng dia barusan. Itu terlalu mustahil untuk Hyejin dan Ryumi untuk dipercaya. Huh.. aku menyesal menceritakannya pada gadis gadis ini. Sesalnya dalam hati.

“Dddrrrrttt…” getaran itu terasa disaku seragam Sanghee, ia terlonjak kemudian meraih handphone yang menghasilkan getaran itu dari saku blazernya.
“Hyukjae oppa?” gumamnya melihat nama seorang yang menelponnya. Bagaimana bisa pria itu tau nomer handphonenya? Oh iya, dia baru ingat kalau kemarin Hyukjae sempat meminta nomer handphonenya saat mereka sedang berbincang di cafeteria.
“Yoboseyo? Hyukjae oppa… wae?” sapa Sanghee, ia kemudian membalikan dirinya dari Ryumi dan Hyejin, takut – takut temannya tau bahwa ia sedang bicara dengan Hyukjae.
“Sanghee-ya, kau sedang di sekolah? Maaf aku mengganggu… aku hanya ingin bertanya keadaanmu” Tanya pria diseberang saluran Sanghee
“Aku tidak apa-apa oppa, tidak usah mengkhawatirkanku…” jawab Sanghee meyakinkan.
“Eum.. baguslah, aku takut terjadi sesuatu padamu…” Kata Hyukjae melega. Sanghee tersenyum bangga. Dirinya dikhawatirkan oleh Hyukjae. Sungguh beruntung…

 
TBC

 

Icha's Room Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review